Seorang Petani Diduga Cabuli 7 Santri di Purwakarta, Ini Modusnya 

Irwan · Senin, 21 Maret 2022 - 20:06:00 WIB
Seorang Petani Diduga Cabuli 7 Santri di Purwakarta, Ini Modusnya 
ilustrasi aksi bejat seorang petani mencabulan santri laki-laki di Purwakarta. (FOTO: ISTIMEWA/ILUSTRASI)

PURWAKARTA, iNews.id - seorang petani berinisial A alias HK (45) diduga mencabuli tujuh remaja laki-laki yang merupakan santri sebuah pondok pesantren di Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Jabar. Modus operandinya, pelaku mencabuli ketujuh korban saat sedang tidur.

Kebejatan HK terbongkar setelah satu dari tujuh korban menceritakan perbuatan cabul pelaku kepada orang tuanya. Mendengar cerita anaknya, orang tua pun berencana melapor ke Polres Purwakarta.

SS, orang tua salah satu korban mengatakan, setelah menerima laporan, mengecek kebenaran laporan anak. Ternyata benar, terduga pelaku A alias HK, warga sekitar pondok pesantren, telah melakukan perbuatan cabul terhadap beberapa santri di pondok pesantren.

Dalam menjalankan aksinya, kata SS, pelaku HK datang ke pondok pesantren pada tengah malam. Kemudian melakukan pelecehan terhadap santri yang sedang terlelap tidur. 

"Biasanya pelaku datang lewat tengah malam disaat kondisi sudah sepi. Aksi tak terpuji itu telah dilakukan terduga pelaku berulang kali," kata SS, Senin (21/3/2022).

Awal kasus ini terbongkar saat SS curiga dengan perilaku anaknya yang selalu mengurung diri di kamar. Bahkan anaknya itu tak mau mengaji ke pondok pesantren karena malu.

"Setelah ditanyakan kepada teman dan anaknya ternyata anak saya dan sejumlah santri lain telah menjadi korban pelecehan seksual oleh pelaku HK, seorang petani," ujar SS.

Terkait perbuatan tak senonoh yang diduga dilakukan pelaku HK, tutur SS, para keluarga korban berharap diproses hukum. Sebab, khawatir pelaku HK kembali melakukan perbuatannya terhadap anak-anak yang lain.

Sementara Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Purwakarta tengah melakukan penyelidikan, memeriksa saksi, dan memburu pelaku. Polisi menunggu laporan resmi dari para korban.

Editor : Agus Warsudi

Bagikan Artikel: