Realisasi Vaksinasi Covid-19 bagi Lansia di KBB Baru 2,5 Persen

Adi Haryanto · Selasa, 13 April 2021 - 15:22:00 WIB
Realisasi Vaksinasi Covid-19 bagi Lansia di KBB Baru 2,5 Persen
Seorang lansia memejamkan mata saat lengan kirinya ditusuk jarum suntik vaksin Covid-19. (Foto: iNews/M Andi Ichsyan)

BANDUNG BARAT, iNews.id - Progres vaksinasi Covid-19 kepada para lansia di Kabupaten Bandung Barat (KBB) masih minim. Selain karena banyak yang meminta pengunduran waktu setelah Ramadan juga keterbatasan vaksin menjadi salah satu penghambat. 

"Persentase vaksinasi untuk masyarakat lansia masih rendah. Dari target 143.180 lansia baru sebanyak 3.579 yang sudah atau sekitar 2,5 persen," kata Kepala Dinas Kesehatan, KBB, Eisenhower Sitanggang didampingi Kabid P2P, Mulyana, Selasa (13/4/2021).

Menurutnya, saat ini jumlah dosis vaksin yang diterima untuk lansia masih belum sebanding dengan target sasaran yang ingin dicapai. Akibatnya ada proses jeda menunggu dari masyarakat ketika vaksinnya belum tersedia.

Ditambah lagi jatah vaksin untuk lansia ada yang dialihkan terlebih dahulu untuk pelayan publik. Saat ini persentase pelayan publik seperti tenaga kesehatan (nakes), petugas Satpol PP, BPBD, dll, di KBB yang sudah menjalani vaksinasi Covid-19 mencapai 68,5 persen. 

"Jadi jatahnya itu berebut antara yang untuk lansia dan untuk pelayan publik. Pelayan publik itu targetnya 60.388 orang, sampai saat ini baru 68,5 persen atau 41.365 orang yang sudah divaksinasi," ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, rendahnya vaksinasi Covid-19 untuk lansia juga disebabkan banyak yang meminta vaksinasi ditunda waktunya setelah bulan Ramadan. Mereka beralasan sekarang sedang ingin fokus beribadah menjalankan puasa Ramadan. 

"Memang kita agendakan vaksinasi di bulan puasa malam hari, tapi mereka (lansia) beralasan ingin fokus ibadah dulu. Walaupun sebenarnya kami bisa saja melayani vaksinasi di pagi hari," tuturnya. 

Diakuinya dengan kondisi keterbatasan vaksin Covid-19 dan fakta di lapangan, target penyelesaian vaksinasi di KBB diperkirakan bakal memakan waktu cukup lama. Itu mengingat jatah vaksin yang diterima tidak sesuai dengan pengajuan. 

"Kalau vaksinnya banyak mungkin bisa lebih cepat, tapi kan kondisinya gini, ya pasti makan waktu lama," ucapnya. 

Editor : Asep Supiandi