Potensi Cukup Besar, Jabar Dorong Eksportir Milenial Garap UKM
BANDUNG, iNews.id - Pemprov Jabar mendorong lahirnya eksportir milenial menggarap sektor UKM karena potensi ekspor Jawa Barat cukup besar. Saat ini, Jawa Barat menjadi provinsi dengan penyumbang ekspor terbesar di Indonesia mencapai 15,71 miliar dolar per Mei 2022.
"Jawa Barat merupakan salah satu provinsi yang memiliki proporsi penduduk dengan dominasi generasi milenial terbesar," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat (Kadisperindag Jabar) Iendra Sofyan dalam keterangan resminya, Jumat (27/7/2022)
Data BPS melalui Sensus Penduduk Tahun 2020 tercatat bahwa penduduk Jawa Barat didominasi oleh generasi Z dan milenial dengan proporsi generasi Z sebanyak 26,88 persen (13,37 Juta orang) dari total populasi dan generasi milenial sebanyak 26,07 persen (12,5 Juta orang) dari total populasi.
Iendra mengungkapkan pihaknya membidik kalangan milenial karena memiliki proporsi penduduk terbesar di Jawa Barat. Selain itu generasi tersebut juga memiliki banyak potensi yang identik dengan kreativitas dan inovasi, serta adaptif dengan perubahan yang semakin signifikan di seluruh sektor terutama teknologi.
"Diharapkan perannya mampu mengurai dominasi sektor industri besar yang ada di Jawa Barat," ujarnya
Pemprov Jabar sendiri, kata dia, melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat melaksanakan Kick Off Eksportir Milenial yang bertujuan meningkatkan branding pelaku usaha milenial berhasil ekspor. Serta meningkatkan motivasi para pelaku usaha IKM/UKM lainnya dalam menembus pasar ekspor.
Pelaksanaan Kick Off Eksportir Milenial diikuti oleh sebanyak 18 pelaku usaha ekspor milenial yang merupakan binaan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat melalui Strategi New Exporter. Berdasarkan data dari BPS (Badan Pusat Statistik) bahwa nilai ekspor jawa barat pada tahun 2021 adalah sebesar 33,6 Miliar USD, pada tahun 2022 sejak Januari-Mei nilai ekspor jawa barat sebesar 15,7 miliar USD.
Namun nilai yang besar tersebut apabila dilihat dari porsi sharing nilai eksportnya adalah 98,8 persen berasal dari Industri besar, dengan kata lain, sharing nilai ekspor dari UKM/IKM Jawa Barat baru 1,2 persen.
"Inilah yang menjadi latar belakang kenapa Jabar harus semakin giat menumbuhkan atau menciptakan eksportir baru dari pelaku usaha UKM/IKM," ujarnya.
Iendra menilai, strategi New eksporter merupakan strategi sebagai langkah untuk terus menciptakan eksporter baru di Jawa Barat. Yaitu melalui konsep kolaborasi baik berbasis anggaran APBD atau supporting Anggaran dari Stakeholder melalui workshop, Export Coaching Program (ECP), dan Coaching Program New Exporter (CPNE).
Sehubungan dengan hal tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang diwakili oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat telah mendorong pelaku usaha potensial ekspor yang ada di Jawa Barat agar dapat menjadi New Expoter dan mampu untuk melaksanakan aktifitas ekspor secara mandiri melalui pelaksanaan kegiatan pembinaan dan pelatihan ekspor sejak tahun 2012 dan masih terus berproses sampai dengan saat ini.
Iendra menambahkan sampai dengan tahun 2022, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat telah membina kurang lebih 343 (tiga ratus empat puluh tiga) pelaku usaha potensi ekspor yang berasal dari Kabupaten/Kota yang ada di Jawa Barat dengan beragam komoditas yang ada seperti kopi, olahan makanan dan minuman, fashion, dan kriya.
"Dengan semakin banyaknya jumlah new eksportir yang berasal dari UKM/IKM Jawa Barat, maka akan berdampak positif dengan meningkatnya jumlah penyerapan tenaga kerja yang akan berbanding lurus dengan semakin meningkatnya kemampuan daya beli masyaraka yang tentunya akan mempengaruhi percepatan pemulihan dan pertumbuhan ekonomi Jawa Barat," ucap Iendra.
Editor: Asep Supiandi