Mengenal Mayjen TNI Dudung Abdurachman, Sang Jenderal dari Bandung

Agus Warsudi ยท Sabtu, 21 November 2020 - 10:06:00 WIB
Mayor Jenderal (Mayjen) Dudung Abdurachman. (Foto: Istimewa)

BANDUNG, iNews.id - Tiga hari terakhir Indonesia dihebohkan oleh sosok Mayjen TNI Dudung Abdurachman. Ketegasan sikapnya terhadap organisasi kemasyarakatan (ormas) Front Pembela Islam (FPI) di Jakarta, seakan mewakili keresahan dan kegeraman sebagian besar masyarakat Indonesia terhadap sepak terjang kelompok itu.

Pernyataan-pernyataan Mayjen TNI Dudung, seolah membangunkan kesadaran kolektif masyarakat untuk berani bangkit dan melawan kesewanang-wenangan kelompok tertentu.

Dalam sebuah video yang viral di semua platform media sosial (medsos) tegas Mayjen TNI Dudung bersikap. "Pasukan TNI yang ada di Petamburan, ya itu pasukan yang memang (melaksanakan) kegiatan rutin garnisun. Saya sebagai panglima Kogartap. Kami rutin melaksanakan patroli untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Sekali lagi saya sampaikan, jangan mengganggu persatuan dan kesatuan yang ada di wilayah Jakarta. Saya panglimanya. Jangan coba-coba mengganggu persatuan dan kesatuan yang ada di Jakarta. Kalau coba-coba mengganggu itu, akan saya hajar nanti," kata Dudung.

"Ada berbaju loreng menurunkan baliho Habib Rizieq. Itu perintah saya! Karena berapa kali Pol PP menurunkan, dinaikkan lagi. Perintah saya itu!" ujar Mayjen TNI Dudung seraya disambut suara tepuk tangan orang-orang yang hadir.

"Begini ya. Kalau siapapun di republik ini, siapapun, ini negara-negara hukum, harus taat kepada hukum. Ya kalau masang baliho itu udah jelas ada aturannya, ada bayar pajaknya, tempatnya juga sudah ditentukan. Jangan seenaknya sendiri. Seakan-akan dia yang paling bener, ndak ada itu, ya. Ndak ada," tegas Pangdam Jaya.

"Jangan coba-coba. Jangan coba-coba pokoknya. Kalau perlu FPI bubarkan saja itu. Bubarkan saja itu. Kalau coba-coba dengan TNI, mari, ya. Sekarang kok mereka ini seperti yang ngatur. Sesukanya sendiri. Ingat ya, saya katakan, itu (pencopotan baliho Habib Rizieq) itu perintah saya. Dan ini (baliho Habib Rizieq) akan saya bersihkan semua. (Agar) Tidak ada itu baliho-baliho yang mengajak revolusi dan segala macam. Saya peringatkan! Saya peringatkan! Dan saya tidak akan segan-segan untuk menindak dengan keras yang coba-coba mengganggu persatuan dan kesatuan. Jangan merasa dia mewakili umat Islam. Tidak! Tidak semua! Banyak, lebih banyak umat Islam yang baik, yang berkatanya juga baik, berucapnya juga baik, dan bertingkah lakunya juga baik. Jelas? Ok," kata Mayjen TNI Dudung.

Siapakah Mayjen TNI Dudung Abdurachman? Dikutip dari sejumlah sumber, Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Dudung Abdurachman SE MM adalah seorang perwira tinggi Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat kelahiran Bandung, Jawa Barat, 16 November 1965.

Pria alumnus SMAN 9 Bandung ini, sejak 27 Juli 2020 mengemban amanat sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) Jaya. Mayjen TNI Dudung Abdurachman memikul tanggung jawab besar menjaga stabilitas dan kondusivitas Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta yang notabene merupakan etalase dan simbol Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Guncang Jakarta, berarti goyah pula Indonesia.

Mengemban tugas dan tanggung jawab sebagai Pangdam Jaya bukan main-main. Reputasi negara di mata di dunia taruhannya. Maka tak heran jika Mayjen TNI Dudung pun tak rela jika ada sekelompok masyarakat yang seenaknya menabrak aturan dan hukum tanpa peduli eksistensi negara dan perangkat hukumnya.


Mayjen TNI Dudung Abdurachman adalah lulusan Akmil 1988 ini dari kecabangan Infanteri. Jabatan terakhir jenderal bintang dua ini adalah Gubernur Akademi Militer (Akmil), perguruan tinggi pencetak calon perwira tinggi TNI.

Lahir dari pasangan Nasuha dan Nasyati, pegawai negeri sipil (PNS) Perbekalan dan Angkutan Kodam (Bekangdam) III/Siliwangi yang berkantor di Jalan Srigading Nomor 12 Kota Bandung. Meski ayah ibu bukan tentara, tetapi Dudung kecil akrab dengan suasana militer. Sebab, keluarga Dudung tinggal di barak militer Bekangdam III/Siliwangi.

Dia Menyelesaikan sekolah dari SD sampai SMA di Kota Bandung (1972-1985). Lulus dari SMAN 9 Bandung pada 1985 kemudian Dudung mendaftar Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) saat ini Akmil.

Pada 1981, saat Dudung masih duduk di bangku kelas 2 SMP, sang ayah Nasuha, meninggal dunia. Untuk membantu perekonomian keluarga, Dudung membantu mencari nafkah sebagai loper koran. Pekerjaan itu dilakukan Dudung sebelum berangkat sekolah.

Pekerjaan sebagai loper koran ditekuni Dudung sampai duduk di bangku SMA. Tak hanya berjualan koran, Dudung juga membantu ibunya menjual kue di perempatan Jalan Belitung, sekitar Markas Kodam III/Siliwangi.

Sejak kecil dia sudah membulatkan tekad ingin menjadi tentara. Dudung menambakan profesi TNI sebagai upaya meringankan beban sang ibu Nasyati untuk membiayai pendidikan delapan saudara kandungnya.

Cita-cita Dudung tercapai ketika diterima di Akabri pada 1985. Setelah menyelesaikan pendidikan di Akabri pada 1988 dengan pangkat Letnan Dua (Letda), Dudung melanjutkan pendidikan Sesarcabif. Setelah itu Dudung melanjutkan pendidikan Diklapa-I, Diklapa-II, dan Seskoad, serta Lemhannas.

Riwayat jabatan, pernah menjabat sebagai Dandim 0406/Musi Rawas, Dandim 0418/Palembang, Aspers Kasdam VII/Wirabuana (2010—2011), Danrindam II/Sriwijaya (2011), Dandenma Mabes TNI, Wagub Akmil (2015—2016), Staf Khusus KSAD (2016—2017), Waaster KSAD (2017—2018), dan Gubernur Akmil (2018—2020).


Editor : Agus Warsudi