Harga Ikan Laut di Pasar Tradisional KBB Melambung, Warga Enggan Beli

Adi Haryanto ยท Rabu, 31 Maret 2021 - 00:28:00 WIB
 Harga Ikan Laut di Pasar Tradisional KBB Melambung, Warga Enggan Beli
Harga ikan laut naik akibat cuaca buruk. (Foto: iNews/Raymond)

CIMAHI, iNews.id - Menjelang puasa harga komoditas laut di sejumlah pasar tradisional di Kota Cimahi mengalami kenaikan. Kondisi tersebut diduga akibat cuaca buruk yang berdampak kepada menurunnya hasil tangkapan nelayan.

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Atas, Hana Subiarti mengatakan, kenaikan harga sejumlah ikan laut itu terjadi sejak sepekan terakhir. Akibatnya daya beli masyarakat jadi turun akibat ada kenaikan harga di kalangan pedagang. 

"Kenaikannya sekitar 10 persen, semua sama rata, di hampir setiap komoditas ikan laut," ucapnya, Selasa (30/3/2021).

Disebutkannya, harga ikan laut seperti udang besar menjadi Rp120.000/kilogram (kg), udang sedang Rp 100.000/kg, udang kecil Rp80.000/kg, cumi besar Rp120.000/kg. Kemudian ikan tongkol Rp60.000/kg, ikan tenggiri Rp80.000/kg, kepala kakap Rp80.000/kg dan kepiting besar Rp100.000/kg.

Menurutnya, harga komiditas ikan laut biasanya tergantung dari ketersediaan barangnya. Jika stok melimpah dari nelayan, maka harganya akan murah. Sementara jika ketersediaannya terbatas, maka harganya pun akan naik seperti sayuran. 

"Untuk saat ini, kondisinya memang ketersediaan ikan laut mengalami penurunan, makanya harga naik. Apalagi sebentar lagi masuk bulan puasa," ujarnya. 

Informasi yang didapatkannya, penurunan pengiriman ikan laut lantaran belakangan ini para nelayan di daerah penghasil tengah mengurangi jam berlayar untuk mencari ikan.

Biasanya, pedagang ikan laut di Kota Cimahi belanja ikan dari sejumlah pasar di Kota Bandung. Seperti Caringin, Andir dan Ciroyom. Pasar-pasar tersebut mendapat pasokan dari wilayah penghasil ikan laut, seperti Pelabuhanratu, Sukabumi dan Semarang Jawa Tengah. 

"Mungkin faktor cuaca buruk dan gelombang tinggi sehingga para nelayan tidak melaut yang imbasnya tidak ada tangkapan ikan berkurang," ucapnya.  

Editor : Asep Supiandi