Gawat, 103.000 Warga Jabar Tertular TBC, Kasus Terbesar di Indonesia
"Mungkin dianggap flu biasa, batuk biasa, padahal sudah sering, sudah lama. Karena informasinya tidak benar, sehingga (saat berobat) tidak diperiksa dahak, tidak di-rongent," katanya.
Lebih lanjut Nina membeberkan, masih tingginya penyebaran TBC juga terjadi karena minimnya pendataan, terutama dari fasilitas pelayanan kesehatan swasta. Dia menilai, banyak klinik maupun rumah sakit swasta yang tidak melaporkan tengah merawat pasien TBC.
"Kepatuhan untuk melapor juga kecil. Ini menambah beban untuk menurunkan TBC," kata Nina.
Sementara itu, Ketua Tim Pencegahan, Pengendalian Penyakit Menular dan Tidak Menular Dinkes Jabar, M Yudi Koharudin menjelaskan, terdapat tiga indikator yang harus dilaksanakan dalam upaya menekan penularan TBC.
Pertama, penemuan kasus harus mencapai target sehingga tidak ada lagi masyarakat yang tidak mengetahui jika mengidap TBC. Kedua, pengobatan harus dilakukan sampai tuntas, sedikitnya selama enam bulan.
"Indikator ketiga yaitu pemberian terapi pencegahan. Diberikan ke orang-orang yang punya kontak erat dengan pengidap TBC," kata dia.
Editor: Asep Supiandi