Cerita Maman Warga Bogor Kehilangan Istri dan Mata Pencaharian akibat Covid-19

Kurnia Illahi ยท Kamis, 08 Oktober 2020 - 18:23:00 WIB
Cerita Maman Warga Bogor Kehilangan Istri dan Mata Pencaharian akibat Covid-19
Pengusaha kue basah asal Kota Bogor, Jawa Barat Maman Sumarya menceritakan pengalamannya ketika dinyatakan positif Covid-19. (Foto: Istimewa).

BOGOR, iNews.id – Benteng ketegaran Maman Sumarya runtuh. Suara pengusaha kue basah asal Bogor, Jawa Barat yang semula tegas itu mendadak tercekat. Bicaranya terputus-putus.

Sejenak dia menerawang. Namun hanya sesaat. Kepalanya langsung tertunduk, menahan air mata yang hendak jatuh. Pria paruh baya ini menghela napas panjang, mengumpulkan kembali kekuatan.

“Sungguh tidak menyangka istri saya akan pergi (meninggal dunia) karena kita masih berkomunikasi (sebelumnya), masih salat subuh,” kata Maman, mengisahkan momen ketika dirinya dinyatakan positif Covid-19. Cerita itu dibagikan dalam akun Youtube SPTV, dikutip Kamis (8/10/2020).

“Tanggal 6 Mei itu hari ulang tahun perkawinan saya yang ke-30. Saya hanya bisa menangis di ruang isolasi. Subhanallah, subhanallah,” ucapnya, lirih.

Maman tak menyangka bakal dinyatakan positif Covid-19. Cobaan itu terasa kian berat karena istrinya juga didiagnosis sama.

Ketika dirawat di rumah sakit, dirinya tidak diperkenankan pulang. Hasil tes sementara dari cek darah menunjukkan sesuatu yang aneh.

Dalam perawatan itu dia bahkan harus disuplai oksigen karena sulit bernapas. Oksigen dipasok melalui nasal (terapi oksigen dengan meletakkan selang dua cabang pada masing-masing lubang hidung sebagai alat bantu pernapasan) maupun dengan model masker tetutup.

Hal berbeda dialami sang istri. Maman mengisahkan, istrinya hanya mengalami batuk. Gejala lainnya yakni sempat hilang rasa. Karena itu, dia sangat terpukul ketika mendapatkan kabar istrinya meninggal.

“Ketika istri saya dinyatakan meninggal, saya ke rumah sakit, saya tidak diperkenankan bertemu hingga selesai pemulasaran jenazah. Terus terang saya merasa sakit sekali dengan kondisi seperti ini,” ucapnya.

Ujian Maman tidak berhenti di situ. Selama 35 hari dirawat di rumah sakit, berbagai stigma datang dari masyarakat. Ada yang mengatakan kritis, bahkan ada pula memberitakan dirinya meninggal dunia.

Cobaan lain, usaha kue basah yang ditekuninya terjun bebas. Meskipun dirinya sudah sehat dan beraktivitas kembali, masih muncul ketakutan dari masyarakat.

“Beredar di masyarakat, ‘jangan belanja ke Pak Maman, nanti kamu terpapar’. Padahal saya sudah dinyatakan negatif dan sehat,” ucapnya.

Editor : Zen Teguh

Halaman : 1 2