Bocah SD di Tasikmalaya Diduga Alami Pelecehan Seksual oleh Gurunya

Asep Juhariyono ยท Kamis, 15 Februari 2018 - 16:02 WIB
Bocah SD di Tasikmalaya Diduga Alami Pelecehan Seksual oleh Gurunya
Anggota KPAI Tasikmalaya bersama pihak keluarga mengantar korban NBL untuk menjalani visum di RSUD SCMU, Tasikmalaya, Kamis (15/2/2018). (Foto: iNews/Asep Juhariyono). (

TASIKMALAYA, iNews.id - Seorang siswi kelas satu sekolah dasar di Kecamatan Bantar Kalong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, diduga menjadi korban pelecehan seksual oleh oknum guru saat jam pelajaran berlangsung. Didampingi ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) serta orang tua, korban menjalani visum di Rumah Sakit Singaparna Citra Medika Utama (SMCU) Kabupaten Tasikmalaya, Kamis (15/2/2018). Kasus dugaan pencabulan tersebut juga sudah dilaporkan ke Polres Tasikmalaya.

NBL (7), masih terlihat syok dan takut. Siswi kelas satu sekolah dasar tersebut diduga mengalami pelecehan seksual oleh pelaku atas nama AF, guru tempatnya bersekolah. Menurut pengakuan korban, pelaku sempat meraba alat vital, dada serta mencium bibir korban. Aksi bejat tersebut disebut NBL dilakukan pelaku saat jam istirahat pelajaran.

Didampingi anggota KPAI Kabupaten Tasikmalaya beserta pihak keluarga, korban menjalani visum di RSUD SMC guna memastikan kondisinya.

Kasus dugaan pencabulan tersebut, terbongkar setelah korban melapor pada bibinya. Korban NBL mengaku enggan bersekolah lantaran takut bertemu dengan oknum guru berinisial AF. “Dia pulang sekolah langsung menangis, langsung bilang ke mamanya. ‘Ma dedek nggak mau sekolah.’ Terus pas ditanya kenapa dia lalu cerita soal gurunya itu,” ucap Elin Herlina, bibi korban.

Korban mengaku telah diraba dan dicium saat jam pelajaran istirahat. Mendengar pernyatan tersebut, pihak keluarga langsung mendatangi sekolah dan meminta pertanggungjawaban kepada pelaku. Akan tetapi, pihak keluarga melihat tidak ada itikad baik dari pelaku untuk menyelesaikan masalah ini. Hingga akhirnya keluarga korban pun melaporkan masalah ini ke kepolisian.

Ketua KPAI Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto mengatakan, visum kali ini merupakan yang kedua kalinya dilakukan. Sebelumnya, korban pernah menjalani visum di puskesmas. “Visum kali ini dilakukan kembali setelah sebelumnya korban juga divisum di puskesmas, jangan sampai visum sebelumnya kurang valid. Visum ini dilaksanakan untuk memastikan apakah ada bagian yang rusak atau tidak dari korban,” ucap Ato.

Menurut Ato, pihaknya belum bisa memastikan hasil visum ini namun dari pengakuan langsung korban, ada sejumlah luka di bagian kelamin korban. Ato menambahkan, dari hasil investigasi KPAI, peristiwa pelecehan seksual ini benar-benar terjadi. “Korban divisum kali ini bukan sekedar untuk memeriksa apakah ada kerusakan atau tidak. Tapi lebih jauh, untuk melihat adanya unsur pidana dari apa yang dilakukan pelaku. Karena menurut undang-undang, memegang saja itu sudah termasuk unsur pidana,” katanya.

Sebelum dilaporkan kepada pihak berwajib, keluarga korban dan pelaku sempat menginginkan permasalahan tersebut diselesaikan secara kekeluargaan. Tetapi setelah menunggu beberapa lama, tidak ada itikad baik dari terduga pelaku. Hingga akhirnya, keluarga korban pun melapor pada pihak berwajib.

Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak sekolah mengenai kejadian ini. Kasus ini pun kini sudah ditangani oleh KPAI dan Polresta Tasikmalaya. 


Editor : Himas Puspito Putra