Awal Mula Pemerkosaan Santriwati di Bandung Terbongkar, Korban Pulang sedang Hamil

Agus Warsudi ยท Minggu, 12 Desember 2021 - 18:07:00 WIB
Awal Mula Pemerkosaan Santriwati di Bandung Terbongkar, Korban Pulang sedang Hamil
Ilustrasi pemerkosaan. (Foto: Ilustrasi/Istimewa)

GARUT, iNews.id - Kasus pemerkosaan belasan santriwati pesantren di Kota Bandung yang dilakukan terdakwa Herry Wirawan (36) menggegerkan masyarakat. Kebiadaban Herry Wirawan pemilik Ponpes TM Boarding School dan Ponpes MH Antapani itu berawal dari kepulangan seorang santriwati.

Fakta ini diungkapkan oleh Kepala Desa Mekarmukti, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut Hikmat Wijaya kepada anggota DPR Dedi Mulyadi melalui sambungan telepon, Sabtu (11/12/2021). 

Selain berkomunikasi melalui telepon, Dedi datang ke desa itu untuk menemui para santriwati yang menjadi korban dan mengangkat mereka sebagai anak asuh. Mereka akan diberikan perhatian dan kasih sayang layaknya anak.

Para korban akan disekolahkan di pesantren milik Kang Dedi, sapaan akrab Dedi Muyadi di Kabupaten Purwakarta. Selama bersekolah, Kang Dedi akan menanggung semua biaya kebutuhan hidup sehari-hari santriwati yang jadi korban kebiadaban Herry Wirawan tersebut.

Kepada Dedi Mulyadi menanyakan tentang awal mula kasus terungkap. Hikmat mengatakan, itu terjadi pada Lebaran atau Idul Fitri 2021 pada Mei 2021 lalu. Saat itu seorang santriwati korban pulang dalam kondisi perut buncit layaknya wanita hamil.

Saat dicurigai hamil, kata Hikmat, anak tersebut terlihat ketakutan dan tiga hari mengurung diri di kamar. Akhirnya satu hari setelah Lebaran, Hikmat datang ke rumah korban tersebut untuk membujuknya agar bicara jujur.

"Saya bilang, keluarga pasti terima dan akan membantu kalau kamu jadi korban pemaksaan atau pemerkosaan. Kamu juga jadi pahlawan yang bisa mengungkap kebiadaban ini. Adik-adik kamu yang belum terjadi (menjadi korban) bisa selamat," kata Hikmat.

Setelah berhasil membujuk (korban mengaku diperkosa terdakwa Herry Wirawan), Hikmat pun melaporkan kasus ini ke Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Garut dan Polda Jabar. "Saya bolak-balik sekitar 10 hari ke Polda Jabar sampai pulang, saya sekeluarga kena Covid (Covid-19)," ujar Kades Mekarmukti.

Disinggung mengapa baru kali ini terungkap, sedangkan perbuatan biadab pelaku telah berlangsung selama 5 tahun sejak 2016-2021, Hikmat menuturkan, karena sebelumnya korban pulang tidak dalam kondisi hamil dan anak yang telah dilahirkan ditinggal di pesantren.

"Ini santri dan santriwati kan pulang setahun sekali hanya Lebaran. Nah yang sebelumnya itu melahirkan sebelum Lebaran jadi enggak ketahuan. Belum lagi baru enam hari di sini sudah dijemput langsung. Anak juga enggak bisa komunikasi dengan orang tua karena alasan ketat pesantrennya," tutur Hikmat.

Editor : Asep Supiandi

Bagikan Artikel: