2 Remaja di Bekasi Gangguan Jiwa Gara-Gara Kecanduan Main HP

Antara ยท Kamis, 17 Oktober 2019 - 11:23 WIB
2 Remaja di Bekasi Gangguan Jiwa Gara-Gara Kecanduan Main HP
Ilustrasi gangguan mental disebabkan ponsel. (Foto: Istimewa)

BEKASI, iNews.idGangguan jiwa akibat berlebihan bermain game di telepon seluler atau handphone (HP) bagi anak-anak ternyata bukan cerita semata. Di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, ada dua remaja yang sudah setahun terakhir terpaksa menjalani perawatan di yayasan khusus gangguan jiwa Al Fajar Berseri di Tambun Selatan.

Ketua Yayasan Al Fajar Berseri Marsan mengatakan, kedua remaja tersebut yakni Nv (17) asal Cikarang Selatan dan Ty (17) asal Cibitung. Sudah setahun mereka dirawat di yayasan yang dia dirikan.

"Ini contoh nyata penggunaan telepon seluler secara berlebihan sebagai dampak perkembangan game," ujarnya, Kamis (17/10/2019).

Dalam kesehariannya, mereka hanya berdiam diri dan sesekali berinteraksi. Namun kedua pasien ini seketika akan bereaksi ketika melihat HP.

"Jadi sehari-hari cuma biasa saja, diam saja. Makan juga bisa. Cuma kalau ada HP, langsung direbut, diambil, dimainin. Misalnya, ada HP di-charge, langsung direbut. Ini karena mereka sudah terlalu ketergantungan dengan game di HP," katanya.

Keterangan keluarga kedua pasien, mereka sudah sangat berlebihan main HP. Dari sejak bangun tidur hingga malam, bahkan sampai menjelang tidur kembali terus bermain HP. Ketergantungan itu juga mengganggu kehidupan nyata, seperti bolos sekolah.

"Bahkan buat makan pun mereka kadang lupa. Lebih parah lagi, kalau dilarang mereka mulai emosional. Bukan cuma marah tapi sampai melawan orangtuanya. Ada beberapa kasus, termasuk yang dua ini," ucapnya.

Marsan melanjutkan, Nv dan Ty bukan pasien gangguan kejiwaan pertama yang dirawat karena kelebihan bermain HP. Sebelumnya ada satu pasien lain asal Medan yang juga mengalami hal serupa.

"Namanya Wh, Katanya sudah (mengunjungi) ke beberapa tempat sampai akhirnya datang ke kami. Empat bulan di sini, sekarang sudah pulang," kata Marsan.

Menurutnya, penggunaan HP seharusnya sudah mulai dikendalikan. Orangtua berperan besar mengatasi ini sejak dini.

Orang tua harus paham di dalam HP itu kan mengandung magnet yang bisa merusak otak. Itu mengapa ada dua orang yang tinggal di sini (yayasan gangguan jiwa) sekarang," tuturnya.

Efek negatif dari penggunaan gawai itu dibenarkan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kabupaten Bekasi Muhammad Rozak. Dia mengaku belum menangani atau menerima laporan terkait anak yang terganggu jiwanya karena HP.

Kendati demikian, dalam beberapa kasus kekerasan terhadap anak, salah satu faktor penyebabnya yakni penggunaan telepon genggam.

"Sebagai contoh kasus tawuran, itu awalnya dari HP. Begitu juga kasus pencabulan anak oleh anak yang sebelumnya sering mengoperasikan telepon genggam, baik mengakses situs porno atau aplikasi dewasa lainnya," ujar Rozak.

Rozak mengatakan, setidaknya KPAD Kabupaten Bekasi menangani 7-10 kasus per bulan terkait kekerasan anak. Ironisnya dari hasil penelusuran, sekitar 30 persen di antaranya diawali dari gawai.

"Bulan ini saja, Oktober, sudah tujuh kasus. Beberapa di antaranya karena gawai. Sering terjadi tindak kekerasan membuat anak jadi pelaku pidana pencurian atau pencabulan. Ini menjadi ironis," katanya.

Dia menegaskan agar orangtua jangan kalah sama anak. Jangan sampai anak mengunci gawainya dan orangtua tidak mampu melihat.

“Jangan takut memasuki ruang pribadi anak karena anak pun lahir dari ruang pribadi orangtuanya. Peran ini sangat penting," tutur Rozak.


Editor : Donald Karouw