Kusnadi Rusmil, anggota Departemen Kesehatan RS Hasan Sadikin (RSHS) Fakultas Kedokteran (FK) Unpad. (FOTO: iNews/ERVAN DAVID)
Ervan David

BANDUNG, iNews.id - Sepekan terakhir, muncul wacana pemerintah bakal mengubah status Covid-19 dari pandemi menjadi endemi. Namun pakar menilai Indonesia belum siap dengan wacana perubahan status itu, seperti disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Pernyataan bahwa Indonesia belum siap dengan perubahan pandemi jadi endemi tersebut disampaikan Kusnadi Rusmil, anggota Departemen Kesehatan RS Hasan Sadikin (RSHS) Fakultas Kedokteran (FK) Unpad.

Menurut Kusnadi Rusmil, Indonesia belum siap mengubah pandemi Covid-19 menjadi endemi karena capaian vaksinasi di bawah 70 persen dan angka kematian akibat virus Corona belum mengalami penurunan.

"Pasalnya masyarakat dan pemerintah masih belum siap menyiapkan segala persyaratan untuk mengubah status dari pandemi menjadi endemi. Kalau sekarang saya nilai belum siap," kata Kusnadi Rusmil, Senin (7/3/2022).

Meski kasus Covid-19 melandai, ujar mantan Ketua Uji Klinis Vaksinasi ini, angka kematian masih tinggi dan capaian vaksinasi belum memenuhi target. 

"Angka kasus memang melandai, tetapi kematian masih tinggi. Ada lagi Omicron dan lain sebagainya. Artinya, Covid-19 masih membahayakan, masih menular. Jika pemerintah memaksakan perubahan status, dikhawatirkan dapat menyebabkan kasus penularan kembali melonjak," ujarnya.

Kusnadi Rusmil menuturkan, jika Indonesia ingin mengubah status pandemi menjadi endemi, disarankan untuk kejar target vaksinasi di atas 70 persen. Sementara, vaksinasi bagi warga lanjut usia (lansia) di Indonesia, termasuk Jawa Barat, masih rendah. Sehingga terbentuk imunitas atau kekebalan komunitas.

Kemudian, terapkan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), 3T (testing, tracing, dan treatment), positivity rate maksimal 5 persen, dan aturan protokol kesehatan (prokes). 

Edukasi harus diberikan kepada masyarakat agar semua terkendali. Masyarakat diimbau untuk segera mengikuti vaksinasi lengkap, 1, 2, dan 3 atau booster. Ajak kakek dan neneknya untuk vaksinasi agar mereka terlindungi.

Indonesia belajar dari wabah penyakit sebelumnya. Seperti flu burung dan Mers, yang kini jadi pandemi karena sudah bisa diatasi. "Sebaiknya, perubahan status pandemi jadi endemi diprediksi bisa dilakukan pada akhir 2022 tapi tetap tergantung kepada capaian imunisasi (vaksinasi)," tutur Kusnadi.

Gubernur Jabar Ridwan Kamil menunggu deklarasi Presiden Joko Widodo (Jokowi) menetapkan pandemi Covid-19 jadi endemi. Dengan penetapan itu, kebijakan-kebijakan terkait Idul Fitri 1443 Hijriah akan dilakukan. Ridwan Kamil siap melaksanakan instruksi pemerintah pusat terkait penetapan endemi, Covid-19 termasuk varian Omicron, seperti flu biasa.

Pernyataan tersebut disampaikan Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, saat menghadiri peresmian perubahan nama flyover Pasupati menjadi Prof Mochtar Kusumaatmadja.

"Endemi itu artinya penyakit tidak hilang, tapi orang tidak perlu lagi panik seperti pandemi. Seperti kalau anda kena kayak flu kan? Ketika makan obat dan istirahat nanti sembuh. Nah Covid nanti akan  begitu karena di Omicron tingkat fatalitasnya hanya 2 kali lipat dari flu, kalau Delta 3 kali lipat makanya yang fatal meninggal banyak," ucapnya. 

Menurut Kang Emil, saat ini, pasien Covid-19 di Jabar umumnya dapat sembuh hanya dalam waktu dua hingga empat hari. Bahkan, kata Kang Emil, 96 persen pasien Covid-19 di Jabar kini cukup dirawat di rumah. 

"Nah itulah fase endemi. Artinya, tinggal pengumuman proklamasi kapan, kalau sudah proklamasi kita gak pakai masker lagi. Berarti menyatakan si Covid sudah sama kayak flu. Tidak hilang, tapi sudah menjadi penyakit biasa yang tidak bikin panik dan fatal," ujar Kang Emil.


Editor : Agus Warsudi

BERITA TERKAIT