Wakil Ketua Komisi VIII DPR Tubagus Ace Hasan Syadzily saat menjadi pembicara Pelatihan Kerukunan Umat Beragama Kemenag. (FOTO: ISTIMEWA)
Agus Warsudi

BANDUNG, iNews.id - Moderasi beragama menjadi jalan keluar dari berbagai permasalahan yang mengganggu kerukunan umat beragama di Tanah Air. Dalam negara bangsa, seperti Indonesia, semua pemeluk agama sama dan setara di muka hukum. 

Demikian disampaikan Wakil Ketua Komisi VIII DPR Tubagus Ace Hasan Syadzily saat menjadi narasumber Pelatihan Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Jawa Barat di Balai Diklat Keagamaan (BDK) Bandung, Senin (17/10/2022) petang.

“Dalam pandangan moderasi beragama, tidak ada dominasi mayoritas atas minoritas atau sebaiknya,” kata Tubagus Ace Hasan Syadzily yang akrab disapa Kang Ace.

Di hadapan Kepala BDK Bandung Aguslani Mushlih dan 60 penyuluh agama se-Bandung Raya, Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Jawa Barat itu, menyatakan, sikap moderat dalam beragama sangat penting. Yakni, sebuah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama yang mengejawantahkan esensi ajaran agama.

“Sebuah praktik keagamaan yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemashalahatan umum dengan selalu berlandaskan pada prinsip keadilan, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa,” ujar Kang Ace.

Kang Ace mengajak para penyuluh mencontoh sikap para pendahulu bangsa seperti KH Hasyim Asyari dan ulama-ulama besar lainnya yang mengajarkan pentingnya moderasi dalam beragama.

Namun, Kang Ace memberi catatan moderasi beragama yang dimaksud bukanlah upaya memoderasi agama, melainkan memoderasi pemahaman dan pengamalan beragama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Moderasi beragama harus dipahami sebagai cara pandang, sikap, dan perilaku yang selalu mengambil posisi di tengah-tengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrem, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri dalam beragama,” tuturnya.

Kang Ace yang dikenal sebagai tokoh pesantren itu kemudian menyebut pesan ayat ke 143 surat Al-Baqarah dalam Al-Qur’an. Bahwa karakteristik umat Islam sejatinya moderat atau ummatan wasatan.

Saat memberikan pemaparan tentang Kebijakan Pembangunan Bidang Agama untuk Mewujudkan Kerukunan Umat Beragama itu, kata Kang Ace, Komisi VIII DPR RI telah mendorong dukungan anggaran bagi penguatan moderasi beragama di Indonesia dalam pagu anggaran Kemenag RI TA 2022 hingga mencapai Rp172.090.402.000.

“Di era disrupsi saat ini moderasi beragama mendapat tantangannya, sehingga sudah sepatutnya mendapat dukungan anggaran memadai,” ucap Kang Ace disambut riuh para penyuluh.

Beberapa tantangan moderasi beragama di era disrupsi seperti kecenderungan masyarakat yang lebih menyukai judul berita yang berkaitan dengan agama yang bersifat provokatif dan heboh. “Masyarakat kadang terlalu mudah mempercayai berita hoaks. Media sosial banyak berisikan penyebaran konten ujaran kebencian,” ujarnya.

Kang Ace menyontohkan, dulu belajar agama itu dengan kiai langsung. Sekarang, ke “kiai google”. Sehingga ustadz-ustadz di media sosial terkadang dianggap lebih memiliki otoritas keagamaan kuat.

"Konten-konten keagamaan radikal dan ekstrem menjadi mudah dikonsumsi tanpa konsultasi dengan otoritas keagamaan tradisional. Populisme agama kemudian menjalar pada aspek politik. Bahkan sebagian anak-anak kita terpapar radikalisme,” tutur Kang Ace.

Karena itu, Kang Ace meminta para penyuluh yang hadir dalam kegiatan itu untuk berada di garis depan dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat terkait moderasi beragama.

Sementara itu, Kepala BDK Bandung Aguslani Mushlih mengatakan, semua yang disampaikan Kang Ace sangat bermanfaat bagi para penyuluh di lapangan. Dia berharap peserta dapat mengimplementasikan seluruh materi pelatihan di tempat tugas masing-masing.


Editor : Agus Warsudi

BERITA TERKAIT