BANDUNG, iNews.id - Hari ini, 17 Februari adalah hari lahir Inggit Garnasih, istri kedua Soekarno. Perempuan yang setia mendampingi Sang Proklamator selama 20 tahun, sejak menikah pada 1923 hingga resmi bercerai 1943.
Inggit Garnasih lahir pada 17 Februari 1888 di kawasan Desa Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung yang saat itu Keresidenan Priangan, Hindia Belanda.
Inggit Garnasih menikah dengan Soekarno pada 24 Maret 1923. Saat itu, Soekarno masih berstatus mahasiswa de Techniche Hoogeschool te Bandung (TH), kini Insitut Teknologi Bandung.
Mereka menikah di rumah orang tua Inggit, Jalan Javaveem (sekarang Jalan Viaduct-Suniaraja), Kota Bandung. Pernikahan Inggit-Soekarno dikukuhkan dengan Soerat Keterangan Kawin Nomor 1138 tertanggal 24 Maret 1923 berbahasa Sunda dan bermaterai 15 sen.
Besarnya penghargaan masyarakat kepada Inggit Garnasih tidak lepas dari cinta, kesetiaan, dan pengorbanannya mendampingi Soekarno yang mendapat panggilan sayang Ngkus itu.
Inggit setia mendampingi Bung Karno mengarungi masa-masa sulit perjuangan selama 20 tahun. Memang, Inggit tak memanggul senjata atau ikut pergerakan perempuan yang menelurkan ide-ide perjuangan.
Namun, cinta dan kesetian Inggit di masa-masa sulit, menjadi penguat tekad Soekarno mewujudkan Indonesia merdeka. Betapa tidak, Inggit sempat membiayai kuliah Bung Karno saat menimba ilmu di ITB dan aktivitas politiknya di Perserikatan Indonesia (PSI) yang lalu berubah menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI).
Inggit juga menyokong semangat, buku-buku, dan materi saat Soekarno dijebloskan ke Lapas Sukamiskin dan Banceuy, Bandung. Sumbangsih Inggit pun mengalir saat suaminya itu menyusun pembelaan atau pleidoi di Landraad Bandung, kini Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan.
Pleidoi yang dibacakan Soekarno dipersidangan dengan judul “Indonesia Menggoegat” pada 1930 menjadi tinta emas sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan melalui cara diplomasi dan intelektual.
Tak berhenti di situ, Inggit setia mendampingi saat Soekarno diasingkan ke Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 1935 dan Bengkulu pada 1938.
Saat di Bengkulu ini lah awal mula keretakan rumah tangga Inggit dan Soekarno. Soekarno jatuh hati kepada Fatmawati dan berniat memperistrinya.
Meskipun resmi bercerai pada 1943 atau dua tahun sebelum Indonesia merdeka, Inggit tetap menyimpan perasaan cinta kepada Soekarno.
Begitu juga Soekarno, masih menyimpan rasa cinta yang sama kepada Inggit. "Aku kembali ke Bandung dan kepada cintaku yang sesungguhnya," tulis Soekarno.
Hingga akhir hayatnya, Inggit tak pernah melepas cintanya kepada Bung Karno. Di usianya yang telah sangat senja 85 tahun, Inggit datang melayat saat Sang Proklamator wafat pada 21 Juni 1970. Air mata membasahi pipi Inggit.
Inggit Garnasih meninggal dunia pada 13 April 1984 atau berumur 96 tahun di Kota Bandung. Selama menikah dengan Soekarno, Inggit tidak memiliki anak kandung.
Untuk memperingati hari lahir Inggit Garnasih, Pemprov Jabar akan kembali mengajukan Inggit mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. Usulan agar Inggit mendapat gelar pahlawan juga disampaikan Megawati Soekarnoputri.
"Pemprov Jabar menganggap Inggit Garnasih sangat berjasa bagi Soekarno, bangsa dan negara. Inggit memfasilitasi dan mendukung suaminya hingga Indonesia meraih kemerdekaan pada 1945," kata Gubernur Jabar Ridwan Kamil.
Pada 2008 dan 2012, ujar Ridwan Kamil, pengajuan gelar pahlawan bagi Inggit mendapatkan penolakan dari pemerintah karena kurang berkas pendukung.
"Pemprov Jabar optimistis pengajuan pada 2023 ini Inggit Ganarsih mendapatkan gelar Pahlawan Nasional," ujar Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, Kamis (16/2/2023).
Sementara itu, Guru Besar Sejarah Unpad Prof Reiza D Dienaputra mengatakan, Inggit Garnasih perempuan asli Priangan yang setia dan loyal mendampingi Soekarno sejak kuliah hingga mengantarkan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Dari awal mendampingi Bung Karno, kiprah Inggit sangat besar bagi perkembangan pribadi Bung Karno. "Membantu Bung Karno menyelesaikan pendidikan hingga bergelar insinyur, ikut mendirikan PNI (Perserikatan Nasional Indonesia) hingga rela ikut dibuang atau diasingkan ke Ende dan Bengkulu," kata Guru Besar Sejarah Unpad.
Prof Reiza D Dienaputra menyatakan, dalam memberikan gelar Pahlawan Nasional, pemerintah menetapkan sejumlah persyaratan ketat baik adminstrasi maupun literatur lainnya.
"Sehingga penetapan gelar pahlawan itu tidak bisa hanya karena katanya atau konon kabarnya. Nah persyaratan itulah yang sedang kami susun dan lengkapi saat ini dalam rangka pengusulan Inggit Garnasih menjadi pahlawan nasional," ujar Prof Reiza yang juga Ketua Dewan Pengkajian dan Penetapan Gelar Daerah (P2GD) Jabar ini.
Editor : Agus Warsudi
inggit garnasih sekolah rakyat iboe inggit garnasih Ir Soekarno Istri Soekarno bung karno kabupaten bandung kota bandung
Artikel Terkait