KARAWANG, iNews.id - Niat Masitoh untuk mengubah ekonomi keluarga menjadi lebih baik, pupus sudah, sejak dirinya menderita gangguan jiwa. Padahal pada 2007 saat berangkat ke Kuwait untuk menjadi TKW, harapan itu masih ada.
Waktu itu Masitoh dilepas keluarganya berangkat ke Kuwait dengan penuh kebanggaan. Namun nasib berkata lain, sejak kepergian Masitoh ke Kuwait, dia divonis menderita gangguan jiwa. Majikan tempatnya bekerja sempat membawa Masitoh ke rumah sakit jiwa, namun tak kunjung sembuh sehingga dipulangkan majikan ke Kampung halaman di Dusun Jati Baros 2, Desa Kertajaya, Kecamatan Jayakerta.
Kedatangan Masitoh ke kampung halaman disambut haru pihak keluarga. Semula pihak keluarga tidak tahu persis gangguan jiwa seperti apa yang diderita Masitoh. Karena saat kedatangan Masitoh pihak keluarga belum melihat keanehan dalam diri Masitoh.
"Anak saya kelihatan banyak diam saja jadi kami pikir sakitnya tidak parah," kata orang tua Masitoh, Sarni (62), Rabu (23/2/2022).
Menurut Sarni, orang tua Masitoh, pertama datang ke rumah, tidak menunjukkan gelagat yang membahayakan. Namun setelah lama berada di rumah tiba-tiba Masitoh menunjukkan perangai buruk, sering mengamuk dan merusak barang-barang yang ada di dalam rumah.
"Kaget juga waktu pertama melihat anak saya galak seperti itu. Semua barang-barang yang ada didalam rumah dirusak," katanya.
Menurut Sarni, kalau sedang kumat, anaknya tidak saja mengamuk dan merusak barang, tapi juga kabur dari rumah. Kalau sudah kabur seringnya mendatangi desa tetangga.
"Kaburnya jauh hingga ke desa tetangga. Cape juga lagi harus mencari jauh hingga ke desa sebelah," katanya.
Akhirnya pihak keluarga memutuskan untuk memasung Masitoh dengan cara dirantai kedua tangannya. Masintoh dipasung agar tidak membahayakan dan juga kabur-kaburan dari rumah.
"Biar tidak merepotkan karena kalau kumat suka galak sama orang juga," ujarnya.
Sarni mengaku sudah mencoba mengobati anaknya dengan berobat ke berbagai tempat namun tidak ada hasil. Tawaran dari pihak Pemkab Karawang untuk mengobati Masitoh ditolak. Alasannya karena masih mau mencari pengobatan tradisional.
"Ditawari berobat ke Bogor tapi saya gak mau karena jauh. Jadi tadinya masih mencoba berobat tradisional aja lebih murah," katanya.
Namun sikap sikap Sarni mempertahankan Masitoh untuk berobat tradisional akhirnya berubah. Dia akhirnya bersedia menerima tawaran Pemkab agar berobat ke Rumah Sakit Jiwa di Bogor.
"Saya bersedia karena sudah bingung mau gmana lagi. Uang anak saya kerja di Kuwait juga sudah habis," tuturnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Sosial (Dinsos) Karawang, Bambang Soegiharta mengatakan penanganan Masitoh sempat mengalami kendala karena secara administratif. Pasalnya Masitoh tidak memiliki KTP dan KK untuk mendapatkan akses pelayanan kesehatan secara gratis dari pemerintah.
"Belum punya KTP dan KK mungkin karena lama dipasung ya jadi tidak diurus," katanya.
Menurut Bambang, pihak Dinsos sudah kordinasi dengan Dinas Kependudukan untuk membuat KTP dan KK Masitoh. Pembuatan KTP dan KK Masitoh akan dipercepat karena akan dibawa ke rumah sakit jiwa di Bogor.
Editor : Asep Supiandi
Artikel Terkait