Siswi SD di Karawang Meninggal Setelah Divaksin Difteri

Mohammad Fachruddin ยท Jumat, 12 Januari 2018 - 19:27:00 WIB
Siswi SD di Karawang Meninggal Setelah Divaksin Difteri
Ibu korban menunjukkan foto putri mereka yang diduga meninggal setelah divaksin difteri di Karawang, Jabar. (Foto: iNews/Mohammad Fachruddin)

KARAWANG, iNews.id – Seorang siswi Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Karawang, Jawa Barat (Jabar), meninggal dunia, diduga usai mendapatkan vaksin difteri di sekolahnya. Sebelumnya korban dikabarkan mengalami demam tinggi hingga kemudian meninggal dunia di rumah sakit.

Sejumlah anggota polisi dari Polsek Lemah Abang dan Polres Karawang Jabar mendatangi rumah korban meninggal, Tearisa Riztiani. Polisi langsung menyelidiki kasus meninggalnya bocah berumur 10 tahun tersebut dengan meminta keterangan dari orang tua dan keluarga korban.

Dari keterangan orang tua korban, putrinya divaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus) oleh petugas kesehatan setempat di sekolah pada Sabtu lalu, 6 Januari 2018. Kemudian Sabtu sore, korban mengalami demam tinggi. Orang tuanya lalu memberikan obat pada Tearisa untuk menurunkan demamnya.

Karena demamnya tidak kunjung turun hingga Senin, 8 Januari 2018, orang tua korban membawa anaknya ke puskesmas. Pihak puskesmas selanjutnya merujuk korban ke RSUD setempat. Lalu, sehari setelah mendapatkan perawatan, Selasa siang, nyawa Tearisa tidak tertolong lagi. “Putri saya dirawat semalam aja. Selasa siang sudah meninggal jam 12.10 WIB,” ujar Rasidi, ayah korban.

Kasus ini juga mendapatkan perhatian dari Bupati Karawang, Jabar, Cellica Nurrachadiana. Bupati berharap kasus kematian warganya yang diduga setelah mendapat vaksin difteri, harus diusut tuntas. Bupati Karawang Cellica Nurachadiana pun telah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk menurunkan tim independen menyelidiki kasus kematian siswi SD tersebut pascaimunisasi difteri.

Sementara Kepala Bidang (Kabid) Penanggulangan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Karawang Sri Sugiharti menyatakan, dari hasil pemeriksaan di rumah sakit, korban didiagnosa terkena sepsis. Sepsis disebabkan infeksi yang bisa menyebar ke seluruh tubuh, termasuk juga otak. Akibatnya terjadi penurunan kesadaran.

“Sepsis itu karena panas dan karena infeksi, diare yang sudah akut. Sore itu katanya korban juga habis makan seblak (yang diduga menyebabkan diare) dan cukup banyak sambalnya. Malamnya langsung buang air besar berkali-kali, sampai akhirnya Senin dibawa ke rumah sakit dan Selasa meninggal,” paparnya.

Menurut Sri Sugiharti, untuk mengetahui penyebab pasti kematiaan korban, tetap haru melalui autopsi.  Masalahnya, orang tua korban menolak jenazah korban diautopsi.

Editor : Maria Christina

Bagikan Artikel: