Pro Kontra Pengobatan ala Ibu Ida Dayak, Ini Kata Dedi Mulyadi
SUBANG, iNews.id - Saat ini, masyarakat dihebohkan oleh pro dan kontra pengobatan patah tulang yang dilakukan oleh seorang perempuan dengan sebutan Ibu Ida Dayak. Wakil Ketua Komisi IV DPR Dedi Mulyadi turut menyoroti fenomena itu.
Bagi Kang Dedi, sapaan akrab Dedi Mulyadi, setiap orang sah-sah saja memiliki cara masing-masing untuk menjalani profesi, sepanjang tidak merugikan orang lain atau menimbulkan masalah di masyarakat.
"Yang tidak boleh itu kalau merugikan orang lain. Sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang harus dihargai apa pun metodologinya (pengobatannya) karena yang dibutuhkan oleh kita adalah yang nyata bukan sekadar narasi," kata Kang Dedi, Kamis (13/4/2023).
Walaupun belum melihat langsung, Kang Dedi memberikan dukungan kepada Ibu Ida Dayak karena sudah banyak orang terbukti sembuh setelah diobati oleh perempuan paruh baya yang selalu mengenakan pakaian khas suku Dayak Paser itu.
Menurut Kang Dedi, metode pengobatan Ibu Ida Dayak bukan hal baru di Indonesia. Banyak orang di berbagai daerah memiliki keahlian khusus yang terbukti berhasil menyembuhkan banyak orang yang mengalami masalah pada tulang.
Seperti pengobatan tradisional hepatitis di Samarang, Garut, dan stroke di Purwakarta. Ahli patah tulang di Citapen, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pun memiliki hampir sama dengan Ibu Ida Dayak.
"Negara wajib memberikan supporting (dukungan) karena banyak orang yang mampu melakukan penyembuhan tanpa harus kuliah di bidang kedokteran. Yang harus dilakukan negara adalah melindungi," ujar Kang Dedi.
Jika perlu, tutur mantan Bupati Purwakarta itu, negara juga membuatkan tempat praktik khusus dengan administrasi dan penataan tempat yang baik. Selain itu para pelaku pengobatan tradisional diberikan sertifikat keahlian.
Selanjutnya, tutur Kang Dedi, pemerintah melakukan penelitian secara akademis terhadap metodologi pengobatan seperti yang dilakukan oleh Ibu Ida Dayak. Termasuk meneliti minyak yang digunakan untuk pengobatan.
"Kemudian, berikan hak paten agar tidak ada pemalsuan, diberikan hak kekayaan intelektual. Sehingga produk karya ilmiah anak bangsa yang lahir dari tradisi mampu menghiasi khasanah kemajuan bangsa Indonesia. Bukan hanya teknologi berpaku pada barat, tapi pengobatan tradisi juga sebuah kemajuan," tutur dia.
Kang Dedi mengatakan, jika pengobatan berbasis tradisi dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin akan sangat diminati masyarakat. Bahkan jika sudah teruji, akan banyak orang luar negeri yang berobat ke Indonesia.
Selama ini Kang Dedi menilai banyak orang hebat dengan pemikiran out of the box yang tidak mendapatkan ruang sehingga lebih memilih berkarir di luar negeri. Seharusnya hal tersebut tidak boleh terjadi.
"Kita berpikir terbuka dan maju dengan cara menghormati tradisi, menjaga kekayaan budaya, juga menghormati kemajuan juga menjaga intelektual," ucap Kang Dedi.
"Untuk Ibu Ida Dayak terus semangat melakukan pengabdian membantu orang kesusahan yang sakit. Tetap berkarya sepanjang bermanfaat jangan hiraukan cacian dan nyinyiran karena banyak orang Indonesia tidak pandai berkarya tapi hanya bisa berkata-kata alias nyinyir," ujarnya.
Editor: Agus Warsudi