Perpeloncoan Siswi Tasikmalaya, Sekolah Takut Rekaman Bocor ke Publik

Asep Juhariyono ยท Selasa, 20 Februari 2018 - 17:14 WIB
Perpeloncoan Siswi Tasikmalaya, Sekolah Takut Rekaman Bocor ke Publik
Pembina Santri Yayasan Fajrul Islam, Noer Sofyan. (Foto: iNews/Asep Juhariyono)

TASIKMALAYA, iNews.id – Pihak sekolah yang siswinya menjadi korban kasus dugaan perpeloncoan saat pelatihan polisi siswa di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat (Jabar) mengaku resah dan khawatir rekaman dalam kegiatan itu bocor dan tersebar ke publik. Hal ini lantaran para anak didiknya sudah sangat trauma atas kejadian tersebut.

“Ini hal yang sangat kami takutkan. Kami takut sekali ada oknum yang merekam perpeloncoan itu dan mempublikasikannya,” kata Pembina Santri Yayasan Fajrul Islam, Noer Sofyan, Selasa (20/2/2018).

Dia mengatakan, kondisi sejumlah siswinya masih trauma dan tertekan. Mereka kerap bersedih dan menangis ketika membahas persoalan tersebut. Kesedihan yang dirasakan para siswinya itu pun sangat memukul pengelola yayasan dan pesantren. Mereka tidak menerima anak didiknya diperlakukan dengan cara seperti itu.

BACA JUGA: Diplonco, Puluhan Siswi Dipaksa Buka Baju dan Lari Telanjang

“Kami sangat menjaga sekali norma-norma di masyarakat. Tetapi mereka sebegitu enaknya menyuruh anak didik kami membuka aurat. Kami di pesantren santri ini diamanatkan oleh orang tua siswa dan siswi untuk mendidik mereka,” ujarnya.

Sofyan mengaku sudah menjalani agenda berita acara pemeriksaan (BAP) Polres Tasikmalaya Kota. Dia sudah memberikan keterangan, pihak sekolah sangat keberatan atas dugaan perpeloncoaan dari salah satu SMA negeri yang menyelenggarakan pelatihan polisi siswa. “Laporannya sudah di BAP, saya sampai tengah malam memberikan keterangan soal laporan itu,” tuturnya.

Diketahui, kasus dugaan perpeloncoan dialami puluhan siswi Madarasah Tsanawiah (MTs) dan Madrasah Aliah (MA) setingkat SMP dan SMA di Kota Tasikmalaya. Mereka diminta menanggalkan seluruh pakaian hingga masuk ke selokan yang penuh sampah dan kotoran saat menjalani pelatihan polisi siswa, Sabtu 17 Februari 2018.

Dalam pelatihan itu, para siswi SMA yang menjadi senior sekaligus pelatih, mengumpulkan mereka dalam sebuah ruangan. Di situ, mereka dipaksa untuk membuka pakaian secara bersamaan dan bertahap dari atas hingga bawah, dengan posisi saling berhadapan satu dengan yang lain. Mereka bahkan sempat berlari dengan kondisi tanpa busana saat akan mengambil baju pengganti.


Editor : Donald Karouw