Pedagang di Garut Menjerit, Jual Kios karena Tak Sanggup Bayar Cicilan

Ii Solihin ยท Rabu, 28 Juli 2021 - 12:23:00 WIB
Pedagang di Garut Menjerit, Jual Kios karena Tak Sanggup Bayar Cicilan
Pusat perbelanjaan di Kabupaten Garut mulai dibuka kembali setelah sebelumnya ditutup selama PPKM Darurat. (Foto: iNews.Tv/Ii Solihin)

GARUT, iNews.id - Pascapenerapan PPKM Darurat selama 22 hari, para pedagang di pusat perbelanjaan Garut Plaza semakin menjerit. Banyak di antara mereka tepaksa harus menjual kiosnya karena sudah tidak sanggup lagi membayar cicilan. 

Bahkan tidak hanya pedagang yang terdampak, ratusan pegawai di pusat perbelanjaan terbesar di Garut ini pun terpaksa dirumahkan.
 
Saat ini, ratusan kios Garut Plaza sudah mulai membuka kiosnya setelah pemerintah setempat melonggarkan pelaksanaan PPKM Darurat Level 3. Para pedagang ini mulai diperbolehkan kembali membuka lapaknya.
 
Meskipun sudah dibuka, tetapi kondisi kios masih sepi pembeli karena masyarakat tidak banyak mendatangi pusat perbelanjaan. Hal itu terjadi lantaran pemerintah daerah masih memperketat pengawasan terhadap aktivitas masyarakat di Kabupaten Garut.
 
Sepinya pengunjung mengakibatkan terjadi penurunan omzet pedagang hingga mencapai 80 persen. Para pedagang pun akhirnya banyak merumahkan pegawai, bahkan ada yang menjual kiosnya.
 
Salah seorang pedagang di Garut Plaza, Aris Nuramdan mengatakan, pasca-PPKM Darurat, berdampak pada sosial dan ekonomi para pedagang di pusat perbelanjaan itu. Dampak sosial yang dirasakan yakni mata pencaharian tertutup akibat pembatasan kegiatan yang berimbas pada penghasilan. 
 
"Penghasilan jadi tidak menentu, sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Selain itu kami juga tidak bisa membayar gaji pegawai dan cicilan toko," ujar Aris, Rabu (28/7/2021).
 
Dia juga menyebutkan, hampir 20 persen pedagang di Garut Plaza menjual kiosnya dan banyak yang nyaris gulung tikar.
  
Menurut dia, saat ini Pemkab Garut memang sudah memberikan bantuan uang tunai sebesar Rp250.000 kepada para pedagang, tetapi bantuan ini tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. "Kami berterima kasih dengan bantuan tunai ini," ujarnya.

Editor : Asep Supiandi