Megathrust Berpotensi Picu Gempa M8,7 dan Tsunami di Sukabumi, Ini Penjelasan BMKG

Wildan Catra Mulia ยท Jumat, 28 Februari 2020 - 19:35 WIB
Megathrust Berpotensi Picu Gempa M8,7 dan Tsunami di Sukabumi, Ini Penjelasan BMKG
Ilustrasi gempa bumi. (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id – Peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) belum lama ini menyampaikan materi potensi ancaman Megathrust Selatan Jawa Barat (Jabar) dan tsunami Kabupaten Sukabumi. Menyikapi hal ini, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta mayarakat tidak dicekam rasa takut dan khawatir.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono menjelaskan, wilayah pesisir Sukabumi secara tektonik berhadapan dengan zona megathrust Samudra Hindia. Ini merupakan zona subduksi lempeng aktif dengan aktivitas kegempaan yang tinggi.

Catatan sejarah menunjukkan wilayah selatan Jawa Barat dan Banten sudah beberapa kali terjadi gempa kuat. Pada 22 Januari 1780, pernah terjadi gempa M8,5. Lalu pada 27 Februari 1903 terjadi gempa M8,1, dan 17 Juli 2006 terjadi gempa M7,8.

“Hasil kajian BMKG yang dilakukan pada tahun 2011 menunjukkan, zona megathrust selatan Sukabumi memiliki magnitudo gempa tertarget, yaitu M8,7,” kata Rahmat dalam siaran pers yang diterima, Jumat (28/2/2020).

Namun, kata Rahmat, kajian potensi bahaya sangat penting dilakukan untuk tujuan mitigasi dan pengurangan risiko bencana, bukan untuk menakut-nakuti masyarakat. Lewat kajian ini, pemerintah daerah diharapkan segera menyiapkan upaya mitigasinya secara tepat, baik mitigasi struktural atau teknis maupun kultural atau nonteknis.

Hasil pemodelan peta tingkat guncangan gempa (shakemap) oleh BMKG dengan skenario gempa M8,7 di zona megathrust menunjukkan dampak gempa di Sukabumi dapat mencapai skala intensitas VIII-IX MMI. Ini artinya, gempa dapat merusak bangunan.

“Jika besaran magnitudo M=8,7 ini digunakan untuk masukan skenario model tsunami, maka wilayah Pantai Sukabumi diperkirakan berpotensi mengalami status ancaman “AWAS” dengan tinggi tsunami di atas 3 meter,” katanya.

Rahmat juga menekankan, satu hal penting yang harus dipahami oleh masyarakat, besarnya magnitudo M8,7 tersebut merupakan potensi hasil kajian dan bukan prediksi. Meskipun kajian ilmiah mampu menentukan potensi magnitudo di zona megathrust, hingga saat ini teknologi belum mampu memprediksi dengan tepat dan akurat kapan gempa akan terjadi.

Untuk itu, di tengah ketidakpastian kapan akan terjadi gempa yang berpotensi memicu tsunami, maka yang perlu dilakukan upaya mitigasi. Caranya dengan menyiapkan langkah-langkah konkret untuk meminimalkan risiko kerugian sosial, ekonomi, dan korban jiwa, seandainya gempa benar terjadi.

Kemudian, pemerintah penting memperhatikan peta rawan bencana sebelum merencanakan penataan ruang dan wilayah. Termasuk dalam hal ini penataan ruang pantai yang aman tsunami. Perlu ada upaya serius dari berbagai pihak dalam mendukung dan memperkuat penerapan building code dalam membangun struktur bangunan tahan gempa.

“Hasil kajian potensi bencana oleh para ahli, jangan sampai membuat masyarakat yang bermukim di dekat sumber gempa dan daerah rawan tsunami dicekam rasa takut dan khawatir,” kata Rahmat.

Masyarakat harus meningkatkan kemampuan dalam memahami cara penyelamatan saat terjadi gempa dan tsunami serta mengikuti arahan pemerintah dalam melakukan evakuasi. Jalur evakuasi ataupun shelter untuk tempat penyelamatan darurat yang memadai perlu disiapkan.

Selain itu, kegiatan sosialisasi di daerah rawan harus digalakkan karena dapat membuat masyarakat lebih siap dalam menghadapi bencana. Kesiapan dalam menghadapi bencana terbukti dapat memperkecil jumlah korban.

BMKG juga mengimbau kepada masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terpancing isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Pastikan informasi gempa bumi berasal dari lembaga resmi pemerintah, dalam hal ini BMKG.


Editor : Maria Christina