Khawatir Terjadi Kerumunan, Rencana Festival Maranggi 2020 Disoal Warga Wanayasa
PURWAKARTA, iNews.id – Rencana Festival Maranggi 2020 di Situ Wanayasa, Kecamatan Wanayasa, Purwakarta, yang bakal digelar besok, Kamis (24/12/2020) disoal. Warga setempat menanyakan konsistensi pemerintah daerah dalam melaksanakan aturan larangan adanya acara yang dapat menimbulkan kerumunan orang.
Beragam kegiatan bakal mengisi dalam acara tersebut, seperti makan sate gratis dan peresmian sejumlah tempat di Wanayasa, menimbulkan kekhawatiran terjadi klister baru penularan Covid-19. Terlebih peserta yang datang pastinya banyak dari luar kecamatan tersebut.
“Selama ini kan pemerintah membatasi secara ketat kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh mayarakat. Contoh untuk menggelar respsi pernikahan saja harus izin sana sini. Tapi nyatanya pemerintah sendiri tidak konsisten dan malah membuat acara yang rawan menimbulkan kerumunan,” kata tokoh masyarakat setempat, Agus Yasin yang juga Ketua Pusat Gerakan Masyarakat Purwakarta (Pager Mapak), Rabu (23/12/2020).
Dia menjelaskan, untuk acara Festival Maranggi itu dipublikasikan dengan menyebarkan brosur melalui media sosial. Artinya, undangan ini tidak khusus, namun menjadi undangan terbuka. Terlebih dengan adanya embel-embel makan sate gratis, dipastikan jumlah warga yang akan datang ke tempat itu bakal membludak.
Menurutnya, kalau sebatas ada kegiatan seremonial untuk peresmian lokasi-lokasi tertentu tidak perlu ada undangan terbuka. Sehingga pihaknya akan meminta pertanggung jawaban Pemkab Purwakarta jika saja kegiatan ini ternyata melanggar aturan di masa pandemi Covid-19.
Merespons kekhawatiran warga seperti itu, Ketua Pelaksana sekaligus Sekretaris Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kabupaten Purwakarta, Heri Anwar, menjelaskan, kegiatan festival itu pada dasarnya difokukan pada kegiatan penataan sejumlah tempat dan destinasi wisata yang ada.
“Adapun Festival Sate Maranggi tidak ada undangan terbuka untuk makan sate gratis. Dalam kegiatan itu kami mengundang sejumlah tukang sate maranggi untuk menunjukkan satenya. Nanti ada penilaian,” kata Heri.
Selain itu, dalam kegiatannya pun dibatasi hanya 50 orang. Untuk protokol kesehatan pihaknya akan menerapkan secara ketat, termasuk menyiapkan rapid test di sekitar acara. Begitu pula sudah bekerja sama dengan Rumah Sakit Gunung Putri dan Puskesmas Wanayasa.
“Seperti pada saat peresmian Bale Madukara yang baru lalu, pemerintah menerapkan prokes ketat. Jika peserta ada yang reaktif langsung diminta tidak berada di lokasi dan dirujuk kepada rumah sakit atau puskesmas,” ucap dia.
Editor: Asep Supiandi