Kemarau Baru Mulai, Warga Kabupaten Bandung Barat Sudah Kesulitan Air Bersih

Adi Haryanto ยท Sabtu, 08 Agustus 2020 - 23:38 WIB
Kemarau Baru Mulai, Warga Kabupaten Bandung Barat Sudah Kesulitan Air Bersih
Warga Kampung Peusinggirang mengantre air bersih di sumur bor wakaf di MTs Nurul Mukhtariyah, Kecamatan Sindangkerta, KBB, akibat sumur yang kering di awal musim kemarau. (Foto: Istimewa)

BANDUNG BARAT, iNews.id – Warga di wilayah selatan Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, sudah mulai merasakan sulitnya mendapatkan air bersih di awal musim kemarau. Air sumur sudah banyak yang menyusut sehingga warga terpaksa mengantre di sumur bor sekolah dekat permukiman.

Seperti yang dilakukan puluhan warga di Kampung Peusinggirang RT 05/02 Desa/Kecamatan Sindangkerta, KBB, Sabtu (8/8/2020). Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, setiap pagi dan sore warga harus mengantre mengambil air ke beberapa sumur yang masih ada airnya. Salah satunya di MTs Nurul Mukhtariyah.

“Meski baru awal masuk kemarau, sumur-sumur di sini sudah banyak yang susut airnya. Pagi ditimba, sore gak ada,” kata Ketua RT 05 Kampung Peusinggirang, Rizal, Sabtu (8/8/2020).

Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Sindangkerta Arif Surahman menuturkan, sumur di Kampung Peusinggirang kebanyakan sumur gali yang hanya memiliki kedalaman sekitar 10 meter. Di saat musim penghujan air melimpah, tapi begitu masuk musim kemarau debit air cepat menyusut. Hanya warga yang punya sumur bor yang tidak merasakan dampak musim kemarau.

“Kalau buat sumur bor mahal, warga banyak yang gak sanggup. Makanya pas kemarau gini banyak warga yang meminta air kepada pemilik sumur bor atau ke sekolah,” ujarnya.

Terpisah Ketua Yayasan Nurul Mukhtariyah Saiful Rachman mengakui, setiap musim kemarau masalah air kerap menjadi persoalan klasik yang dihadapi warga Kampung Peusinggirang. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga memanfaatkan air yang ada di lingkungan sekolah.

“Ini karena sumber air terdekat berada di Kampung Cipataruman yang berjarak sekitar 0,5 kilometer,” ujarnya.

Sementara untuk mencuci pakaian, warga harus ke Sungai Cijere yang berjarak sekitar 1 kilometer. Air di sana masih bersih dan belum terkontaminasi limbah. Namun pada musim kemarau seperti sekarang, debit air juga ikut menyusut. Sementara untuk kebutuhan minum dan memasak, biasanya warga memanfaatkan air sumur.

“Sumur bor yang ada di lingkungan sekolah kami adalah sumur wakaf dan airnya bagus karena kedalamannya sampai 85 meter. Bantuan tersebut dari ACT (Aksi Cepat Tanggap) dan bisa dimanfaatkan oleh warga yang membutuhkan air bersih,” katanya.


Editor : Maria Christina