Kebutuhan Insinyur di Indonesia Capai 260.000 Orang, Baru Terpenuhi 40 Persen

Arif Budianto · Minggu, 11 April 2021 - 10:06:00 WIB
Kebutuhan Insinyur di Indonesia Capai 260.000 Orang, Baru Terpenuhi 40 Persen
Upacara Wisuda Angkatan I Program Profesi Insinyur (PPI) Tahun Akademik 2020/2021 Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). (Foto: Istimewa) 

BANDUNG, iNews.id - Indonesia memerlukan sekitar 260.000 insinyur, untuk memenuhi tingginya kebutuhan pembangunan infrastruktur dan lainnya. Kendati jumlah perguruan tinggi cukup banyak, namun kebutuhan insinyur baru terpenuhi sekitar 40 persen. 

Direktur Jenderal (Dirjen) Perumahan pada Kementerian PUPR Khalawi Abdul Hamid mengatakan, Indonesia membutuhkan tambahan sedikitnya 260.000 insinyur. Khalawi mengungkapkan, kebutuhan insinyur di Indonesia baru terpenuhi berkisar 30-40 persen dari total keseluruhan kebutuhan insinyur. 

“Kita masih kurang banyak, kebutuhan kita baru (terpenuhi) 30-40 persen dari keseluruhan kebutuhan insinyur di Indonesia. Oleh karena itu, masih banyak insinyur-insinyur asing yang berkiprah di Indonesia,” ujar Khalawi pada acara Upacara Wisuda Angkatan I Program Profesi Insinyur (PPI) Tahun Akademik 2020/2021 Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) dalam siaran persnya, Minggu (11/4/2021).

Tak hanya Unpar, dia pun mendorong agar seluruh perguruan tinggi di Indonesia melakukan percepatan PPI. Menurut dia, PPI merupakan suatu keharusan sebagaimana diamanahkan oleh UU Nomor 11/2014 tentang Keinsinyuran. Hal itu dimaksudkan agar kompetensi lulusan sarjana keteknikan bisa laku di dalam negeri maupun secara global.

“Kami sebagai angkatan pertama di PPI Unpar ini sangat mengucapkan terima kasih atas upaya Unpar untuk membantu pendididkan PPI ini. Sekali lagi kami bangga, bisa menjadi bagian dari Unpar. Tentunya janji alumni itu sama-sama kita laksanakan dengan tetap memegang kode etik keinsinyuran,” kata dia.

Khalawi pun mengambil contoh khususnya di Kementerian PUPR, banyak hal yang bisa dilakukan bersama Unpar khususnya di Direktorat Jenderal Perumahan yang masih banyak membutuhkan sumbangsih dari para alumni dan Unpar sebagai lembaga pendidikan untuk meningkatkan PPI lebih baik ke depan.

"Khususnya dalam penyediaan rumah untuk masyarakat. Kita masih banyak menghadapi tantangan, terutama masyarakat yang belum memiliki rumah kurang lebih 7,8 juta, menjadi pemikiran kita bersama khususnya untuk masyarakat berpenghasilan rendah," tutur Khalawi.

Sementara itu, Rektor Universitas Katolik Parahyangan Mangadar Situmorang, Ph.D. melantik 78 mahasiswa dalam Upacara Wisuda Angkatan I Program Profesi Insinyur (PPI) Tahun Akademik 2020/2021 yang digelar secara luring di Aula Gedung Fakultas Ekonomi Unpar dan daring, pada Sabtu (10/4/2021). 

Sebanyak 14 wisudawan hadir secara langsung, termasuk Direktur Jenderal (Dirjen) Perumahan, Dr Ir H Khalawi Abdul Hamid, MSC. MM pada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Wisuda berlangsung sesuai dengan protokol kesehatan dalam penanganan pandemi Covid-19.

Dalam pidatonya, Rektor mengungkapkan apresiasinya karena Unpar secara perdana bisa mewisuda 78 mahasiswa dan 14 di antaranya bisa menghadiri prosesi secara langsung. Menurut Rektor, gelar profesi insinyur bukan sekadar bentuk pengukuhan, tetapi juga pengakuan atas kompetensi, komitmen, dan dedikasi di dunia keteknikan. 

“Wisuda perdana ini menjadi penegasan atas profesi di bidang keteknikan. Pemberian secara formal kiranya bagi para insinyur yang diwisuda hari ini membuat semakin bangga dan percaya diri dengan titel insinyurnya,” tutur Rektor.

Kendati demikian, Rektor mengatakan bahwa lulusan PPI Angkatan I ini menjadi tantangan bagi Unpar sebagai lembaga pendidikan untuk terus berkontribusi bagi negeri untuk menghasilkan insinyur yang berkualitas tinggi. Dia berharap, para insinyur lulusan Unpar memiliki dedikasi, tanggung jawab, humanis, dan berkomitmen untuk terus membangun negeri.

“Dan itu pasti tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak, dalam hal ini Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan seluruh asosiasi profesi di keteknikan. Ini yang kemudian kita selenggarakan secara kolaboratif melalui PPI dan fokus kita pada tahun pertama ini RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau), yaitu dengan melihat portofolio atau track record para pekerja profesional di bidang keteknikan selama ini,” ujarnya. 

Editor : Asep Supiandi