Kasus Pemerkosaan Tak Diproses Polisi, Siswi SMP Lapor ke KPAID

Asep Juhariyono ยท Kamis, 26 April 2018 - 14:28 WIB
Kasus Pemerkosaan Tak Diproses Polisi, Siswi SMP Lapor ke KPAID
F, siswi SMP korban pemerkosaan yang kasusnya tak diproses polisi melaporkan diri ke KPAID Tasikmalaya, Kamis (26/4/2018). (Foto: iNews/Asep Juhariyono)

GARUT, iNews.id - Seorang pelajar asal Desa Sukwening, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, mendatangi kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya, untuk melaporkan pemerkosaan yang dialaminya, Kamis (26/4/2018).

Korban yang didampingi keluarga, tokoh masyarakat, dan aparat desa setempat, melapor ke KPAID Tasikmalaya karena merasa tidak ada pendampingan dari Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak (P2TPA) Kabupaten Garut. Korban dan keluarga kecewa, meski sudah melaporkan ke Polres Garut, pelaku hingga saat ini masih bebas berkeliaran.

Dengan diantar keluarganya, F siswi kelas 1 SMP di Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut ini, tiba di kantor KPAID Tasikmalaya, Kamis (26/4/2018) pagi tadi. Dia sengaja datang ke KPAID untuk menuntut keberlanjutan proses hukum atas dugaan kasus pemerkosaan yang dialaminya.

Saat ini, kondisi korban sangat memprihatinkan. Dia tidak lagi sekolah karena malu dengan teman-temanya. Korban kini lebih banyak diam dan tinggal di rumah saja.

Karena itulah, pihak keluarga dan aparat desa tempat korban tinggal berinisiatif untuk mengadukan masalah ini ke KPAID Tasikmalaya. Dengan melapor ke sana, keluarga dan aparat desa berharap akan ada pendampingan dan bantuan psikologi terhadap korban.

Dari pengakuan korban, peristiwa nahas yang menimpa dirinya itu terjadi saat dia bermain dengan seorang temannya. Namun menjelang malam F malah diajak ke rumah seorang lelaki di Cibatu. Di sana korban dicekoki miras sebanyak tiga gelas hingga lemas dan nyaris tak sadarkan diri. Saat itulah korban diseret ke kamar dan setubuhi oleh pelaku atas nama N, yang informasinya merupakan seorang mahasiswa di Bandung.

“Saya sudah bilang tidak mau minum tapi dipaksa. Sampai tiga gelas terus saya agak pusing. Terus saya disuruh duduk di sebelah A’ N (pelaku). Abis itu saya dipeluki dan dicium terus ditarik ke kamar,” kata Fitri, di kantor KPAID Tasikmalaya, Kamis (26/4/2018).

Ketua KPAID Tasikmalaya, Ato Rinanto mengatakan, setelah dilakukan dialog dan pendalaman, korban diduga telah mengalami pelecehan seksual yang berujung pada tindak pemerkosaan. “Kasus ini sebetulnya sudah dilaporkan ke Polres Garut, visum juga sudah ada. Tapi berdasarkan pengakuan dari korban, pelaku sampai saat ini belum ditangkap,” kata Ato.

Keluarga berharap, segera ada tindakan dari kepolisian untuk menyelesaikan kasus ini. Dan yang tak kalah penting, pendampingan psikologis juga sangat diperlukan oleh korban untuk memulihkan trauma yang dialaminya.


Editor : Himas Puspito Putra