Hujan Batu akibat Tambang di Purwakarta, Polisi: Ada Kesalahan SOP

Irwan ยท Rabu, 09 Oktober 2019 - 15:10 WIB
Hujan Batu akibat Tambang di Purwakarta, Polisi: Ada Kesalahan SOP
Kapolres Purwakarta, AKBP Matrius, saat jumpa pers di Mapolres Purwakarta. (Foto: Dok iNews).

PURWAKARTA, iNews.id - Aktivitas tambang di tebing kawasan Gunung Miun, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat (Jabar), mengakibatkan tujuh rumah dan sebuah sekolah rusak. Polisi memeriksa tiga orang saksi dari pihak perusahaan karena diduga ada kesalahan standar operasional prosedur (SOP).

Kasat Reskrim Polres Purwakarta, AKP Handreas Ardian mengatakan, saat ini petugas sudah memeriksa tiga orang saksi dari PT Mandiri Sejahtera Sentra, perusahaan penambang di Gunung Miun, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta. Mereka yakni, juru ledak dan petugas bagian operasional.

"Bisa jadi tersangka, karena ini kesalahan SOP," kata Handreas kepada wartawan di Mapolres Purwakarta, Jabar, Rabu (9/10/2019).

Dia mengatakan, dalam olah TKP memang ada dugaan pihak penambang batu melakukan blasting atau meledakkan batu. Karena itu, terjadi hujan batu yang mengakibatkan banyak rumah warga dan sebuah sekolah rusak, bahkan dua di antaranya mengalami rusak berat, nyaris rata dengan tanah.

Batu besar menimpa rumah warga hingga hancur di Kampung Cihandeuleum, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Jabar, Selasa (8/10/2019). (Foto: iNews/Irwan)

Sebelumnya, sejumlah rumah warga di Kampung Cihandeuleum, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, hancur tertimpa bongkahan batu besar. Beberapa titik jalan kampung rusak dan sejumlah pohon juga tumbang akibat hujan batu tersebut.

Kepala Desa Sukamulya, Dedy Supriadi mengatakan, batu-batu besar dengan ukuran tinggi enam meter dan lebar lima meter itu jatuh dari Gunung Miun diduga akibat getaran saat peledakan batu di areal tambang. Batu-batu tersebut menggelinding dari atas gunung ke arah perkampungan warga.

"Kami sudah mencoba negosiasi ke pihak perusahaan agar bertanggung jawab atas kerusakan rumah warga," kata Dedy Supriadi.


Editor : Andi Mohammad Ikhbal