Herry Wirawan Tidak Dihukum Mati dan Kebiri, Jaksa Nyatakan Pikir-pikir 

Agung Bakti Sarasa · Selasa, 15 Februari 2022 - 13:14:00 WIB
Herry Wirawan Tidak Dihukum Mati dan Kebiri, Jaksa Nyatakan Pikir-pikir 
Kajati Jabar Asep N Mulyana sekaligus JPU memberikan keterangan terkait vonis penjara seumur hidup yang dijatuhkan majelis hakim terhadap terdakwa Herry Wirawan. (FOTO: AGUNG BAKTI SARASA)

BANDUNG, iNews.id - Herry Wirawan, terdakwa kasus pemerkosaan 13 santriwati hingga hamil dan melahirkan, hanya divonis hukuman penjara seumur hidup, bukan hukuman mati dan kebiri, dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jalan RE Martadinata, Kota Bandung, Selasa (15/2/2022). Menanggapi vonis majelis hakim tersebut, jaksa penuntut umum (JPU) menyatakan pikir-pikir.

Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Barat Asep N Mulyana selaku JPU mengatakan, mengapresiasi dan menghormati putusan hakim. "Kami mengapresiasi dan menghormati putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Klas I Bandung ini," kata Kajati Jabar seusai sidang. 

Asep N Mulyana menilai, putusan hakim tersebut telah berdasarkan banyak pertimbangan atas sejumlah tuntutan yang disampaikan pihaknya dalam sidang sebelumnya. "Hakim sependapat bahwa perbuatan terdakwa sesuai dengan dakwaan primer kami," ujarnya.

Meski begitu, tutur Asep N Mulyana, ada beberapa tuntutan yang belum dikabulkan oleh majelis hakim. Karena itu, tim JPU akan mempelajari pertimbangan dan putusan hakim tersebut secara menyeluruh. 

"Maka, kami menyatakan pikir-pikir dalam jangka waktu tujuh hari untuk menentukan sikap apakah menerima putusan hakim tersebut atau mengajukan upaya banding," tutur Asep N Mulyana. 

Sebelumnya, majelis Hakim PN Bandung yang dipimpin Yohannes Purnomo Suryo mengatakan, Herry terbukti bersalah melakukan tindak pidana kekerasan dan pemaksaan persetubuhan dengan anak.

"Menjatuhkan pidana kepada terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara seumur hidup," kata ketua majelis hakim Yohannes Purnowo Suryo.

Terdakwa Herry yang saat ini berusia 36 tahun melakukan serangkaian aksinya sepanjang 2016 hingga 2019 dan terungkap pada 2021. Dari tindakannya, para korban yang berusia 16-17 tahun sudah melahirkan total 8 bayi. 
 
Sebelumnya, JPU, Asep N Mulyana menuntut Herry dengan hukuman mati. Selain itu, kebiri kimia, membayar denda senilai Rp500 juta subsider 1 tahun kurungan, penyebaran identitas, hingga membekukan yayasan dan pondok pesantren yang dikelolanya. 

Pengajar sekaligus pengurus lembaga pendidikan Madani Boarding School di Cibiru, Bandung, Jawa Barat, ini juga dituntut membayar restitusi kepada korban-korbannya sebesar Rp321,527 juta. 

Selain memperkosa belasan santriwatinya, Herry juga dinilai melakukan pemberatan, yakni menggunakan simbol agama dan lembaga pendidikan sebagai alat untuk memanipulasi perbuatannya hingga para korban terperdaya.

Editor : Agus Warsudi

Follow Berita iNewsJabar di Google News

Bagikan Artikel: