Pasokan Kurang, Harga Cabai Rawit Naik 100 Persen di Kota Cimahi

Adi Haryanto · Kamis, 07 Januari 2021 - 20:16:00 WIB
Pasokan Kurang, Harga Cabai Rawit  Naik 100 Persen di Kota Cimahi
Salah satu penjual sayuran di pasar tradisional Cimindi, Kota Cimahi, mengaku harga sejumlah komoditi sayuran naik di atas 100 persen. Foto: Adi Haryanto

CIMAHI, iNews.id - Harga sejumlah komoditi sayuran di Kota Cimahi naik rata-rata 100 persen. Salah satunya harga cabai rawit yang terus merangkak naik sejak libur tahun baru. 

"Seminggu ini cabai rawit merah sedang jadi raja. Naik terus. Sekarang udah 100 persen naiknya dibanding harga normal," kata salah seorang pedagang di pasar tradisional Cimindi, Kota Cimahi, Hani (34), Kamis (7/1/2021).

Dia menyebutkan, cabai rawit merah harganya kini Rp80.000 per kg dari asalnya Rp40.000 per kg. Kenaikannya memang tidak sekaligus, tapi bertahap Rp20.000. Berselang tiga hari kemudian, naik lagi dengan nominal sama. 

Selain cabai rawit merah, harga beberapa komoditi sayuran juga mengalami kenaikan sejak sepekan terakhir ini. Seperti mentimun dari Rp5.000/kg menjadi Rp15.000/kg, lalu kol dari Rp3.000/kg jadi Rp10.000/kg, terong dari Rp5.000/kg menjadi Rp10.000/kg, dan sejumlah sayuran lainnya. 

"Mungkin karena sekarang kan lagi musim hujan, petani jadi gagal panen, makanya pasokan kurang. Tapi karena permintaan banyak, stok sedikit, jadi harga naik," sambungnya. 

Menurutnya, permintaan cabai rawit dan sayuran lainnya di libur Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 tidak seperti tahun sebelumnya. Permintaan cenderung menurun karena imbas pandemi Covid-19 dan adanya larangan dari pemerintah untuk tidak beraktivitas merayakan tahun baru.

Sementara salah seorang penjual masakan, Bu Ude mengaku kerepotan dengan naiknya harga cabai rawit. Apalagi sebagai penjual masakan siap saji khas Sunda, selalu membutuhkan cabai rawit untuk membuat sambal dan campuran bumbu.

"Harga cabai rawit naik jadi saya beli sesuai kebutuhan, gak banyak-banyak, tapi seperlunya. Soalnya gak mungkin tiba-tiba naikin harga hidangan yang dijual," keluhnya. 

Editor : Asep Supiandi