Diplonco, Puluhan Siswi Dipaksa Buka Baju dan Lari Telanjang

Asep Juhariyono ยท Selasa, 20 Februari 2018 - 16:25 WIB
Diplonco, Puluhan Siswi Dipaksa Buka Baju dan Lari Telanjang
Dua siswi yang trauma setelah menjadi korban perpeloncoan pelatihan polisi siswa. (Foto: iNews/Asep Juhariyono)

TASIKMALAYA, iNews.id – Puluhan siswi Madrasah Tsanawiah (MTs) dan Madrasah Aliah (MA) setingkat SMP dan SMA di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat (Jabar), diduga menjadi korban perpeloncoan saat mengikuti pelatihan organisasi polisi siswa. Mereka diminta menanggalkan seluruh pakaian hingga masuk ke selokan yang penuh sampah dan kotoran.

Informasi yang dihimpun, peristiwa yang membekas dan meninggalkan trauma mendalam puluhan siswi itu terjadi pada Sabtu, 17 Februari 2018 lalu. Namun baru dilaporkan pihak sekolah ke ranah hukum, Senin 19 Februari 2018, setelah ada laporan dari para siswinya.

Penuturan seorang siswi, peristiwa ini berawal dari adanya kegiatan pelatihan polisi siswa yang diselenggarakan oleh siswi salah satu SMA Negeri di Tasikmalaya. Pesertanya yakni sejumlah sekolah di Kota Tasikmalaya, termasuk mereka siswi dari MTs dan MA yang jadi korban tersebut.

Dalam pelatihan itu, para siswa SMA yang menjadi senior sekaligus pelatih mengumpulkan mereka dalam sebuah ruangan. Mereka kemudian diposisikan saling berhadapan satu dengan yang lain. Di situ, mereka dipaksa untuk membuka pakaian secara bersamaan dan bertahap dari bagian atas hingga bawah.

BACA JUGA: Perpeloncoan Siswi Tasikmalaya, Sekolah Takut Rekaman Bocor ke Publik

“Kami dibariskan saling berhadapan, kemudian disuruh membuka pakaian. Kami sempat menolak, namun karena takut kami hanya bisa pasrah. Kalau tidak ikuti permintaan senior, kami dimarahi,” kata SR, seorang siswi yang jadi korban plonco.

Dia mengaku masih trauma dan menangis jika teringat peristiwa perpeloncoan tersebut. “Sebagai siswa madrasah, saya sedih. Saya malu. Kenapa harus di-gitu-gituin, saya tidak terima diperlakukan seperti itu. Kalau misalnya harus ganti baju lima menit saya siap. Tapi ini harus saling hadap-hadapan. Buka bajunya juga dikomandoin, meski dengan sesama perampuan, tapi ini kan aurat,” ucapnya.

Korban lain, DD menyampaikan pengakuan yang hampir sama. Dia mengatakan, ketika itu ada sekitar 20-an siswa yang dikumpulkan dan dikomando untuk menanggalkan seluruh pakaiannya. “Mereka mengomando, mereka bilang buka kerudung, kami harus langsung buka. Lalu mereka suruh buka kancing, kami harus ikuti sesuai komando, kalau tidak dimarah-marahi. Semuanya disuruh buka,” tuturnya.

DD mengungkapkan ada bagian yang sangat sulit mereka lupakan. Yakni ketika mereka harus mengambil baju pengganti yang berada dalam tas yang berada di ujung ruangan. Dalam kondisi tanpa busana, mereka berlari-lari untuk cepat-cepat mengambil baju pengganti tersebut. “Sekitar 30 menitan kami diperlakukan seperti itu,” ucapnya.

Tak habis sampai di situ, mereka juga dipaksa untuk masuk ke dalam selokan air yang kotor dan bersampah, hingga sebagian mengalami luka-luka lecet dan memar.

Sementara itu, pihak sekolah yang mendapat laporan anak didiknya diperlakukan seperti itu langsung bereaksi dengan membawa hal itu ke ranah hukum. Mereka  melaporkan dugaan aksi pepeloncoan tersebut ke Polres Tasikmalaya Kota. "Saya sangat terpukul mendengar pengakuan para siswi. Sungguh sangat menyakitkan. Anak didik ini dititipkan orang tuan kepada kami di pesantren untuk kami jaga, tetapi malah diperlakukan seperti itu. Kami sudah tindaklanjuti dan laporkan ke aparat hukum,” kata Pembina Santri, Noer Sofyan.


Editor : Donald Karouw