Bejat, Guru di Kabupaten Bandung Cabuli Santrinya selama 4 Tahun

Antara ยท Selasa, 26 Mei 2020 - 15:22 WIB
Bejat, Guru di Kabupaten Bandung Cabuli Santrinya selama 4 Tahun
Ilustrasi pencabulan. (Foto: Istimewa)

BANDUNG, iNews.id - Seorang guru berinisial EP (36) yang mengajar di sebuah pesantren di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat diduga mencabuli seorang santri. Perbuatan guru tersebut sudah berlangsung selama empat tahun.

Kapolresta Bandung Kombes Hendra Kurniawan mengatakan korban tersebut masih berusia 14 tahun. Pelaku sudah melakukan tindak asusila sejak tahun 2016 hingga tahun 2020.

"Awalnya korban diminta untuk berfoto dengan tidak menggunakan hijab, kemudian di sekolah itu ada aturan kalau tidak menggunakan hijab akan ada tindakan. Karena takut kemudian diancam lagi, akhirnya berhasil difoto tanpa busana," kata Hendra, di Polresta Bandung, Selasa (26/5/2020).

Setelah memiliki foto korban tanpa busana, pelaku EP mengancam akan menyebarluaskan di media sosial. Ancaman itu, menjadi modus pelaku agar bisa mencabuli korban.

"Kondisi ini justru dimanfaatkan oleh pelaku untuk berhubungan badan dengan cara mengancam. Dan kegiatan ini sudah berlangsung sampai dengan kurang lebih empat tahun dari umur 14 sampai 17 tahun," kata dia.

Sejauh ini, polisi baru menemukan satu korban dari pencabulan yang dilakukan pelaku EP. Namun, menurut Hendra, tidak menutup kemungkinan ada korban lainnya dari kasus asusila tersebut.

"Saat ini sedang kami dalami di komputer ini atau pun di laptop barang bukti, apakah ada korban lain atau tidak. Karena ada indikasi foto-foto lainnya, apakah ada hubungan atau tidak masih kita dalami," katanya.

Hendra menyampaikan, saat ini kondisi korban masih mengalami trauma. Korban juga baru melaporkan kasus tersebut sejak empat tahun lalu.

"Kami juga memberikan bantuan atau bimbingan konseling, agar kondisinya bisa sembuh kembali," kata dia.

Berdasarkan pemeriksaan, pelaku EP mengaku sudah berkeluarga dan memiliki dua orang anak. Dia mengakui melakukan tindakan asusila tersebut karena khilaf.

Atas perbuatan itu, pelaku dijerat Pasal 81 ayat 3 dan atau Pasal 82 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2017 tentang persetubuhan dilakukan oleh tenaga pendidik, juncto Pasal 64 KUHP. Pelaku terancam pidana maksimal 15 tahun penjara.


Editor : Faieq Hidayat