Alasan Budi Masukkan Mayat Delis ke Gorong-Gorong

Asep Juhariyono ยท Kamis, 27 Februari 2020 - 13:32 WIB
Alasan Budi Masukkan Mayat Delis ke Gorong-Gorong
Gorong-gorong TKP ditemukannya Delis Foto: SIndonews

TASIKMALAYA, iNews.id - Polres Tasikmalaya menangkap pembunuh Delis Sulistina (13) yang ditemukan tewas di gorong-gorong di depan SMP Negeri 6 Tasikmalaya, Jawa Barat. Pelakunya yakni bapak kandung korban, Budi Rahmat (45).

Delis meninggal akibat dicekik hingga hilang napas. Budi sempat menyamarkan pembunuhan dengan memasukkan Delis ke gorong-gorong agar terkesan terjadi kecelakaan.

"Dimasukkan gorong-gorong dengan harapan dengan dimasukkannya agar dikira korban kecelakaan dan masuk ke gorong-gorong," kata Kapolres Tasikmalaya AKPB Anom Karibianto, Kamis (27/2/2020).

Pembunuhan ini bermula saat korban sepulang sekolah pada hari Kamis tanggal 23 Januari 2020, datang ke tempat kerja Budi di Jl Laswi, Tasikmalaya untuk minta uang Rp400.000 untuk membayar biaya study tour. Namun saat itu Budi hanya punya uang Rp300.000 yang diperolah dari uang sendiri Rp200.000 dan Rp100.000 meminjam dari sang majikan pemilik rumah makan.

Korban menolak dan tetap meminta uang Rp400.000, sehingga sempat terjadi pertengkaran antara korban dan pelaku. Kemudian pelaku membawa korban ke salah satu rumah kosong yang berada tidak jauh dari lokasi kerja pelaku.

Sesampainya di rumah kosong, pertengkaran kembali terjadi antara korban dan pelaku. Sehingga pelaku akhirnya mencekik korban hingga meninggal di lokasi kejadian.

Korban kemudian dibawa menuju lokasi gorong gorong pada malam hari saat hujan lebat dan korban dimasukkan ke dalam gorong-gorong. Saat air di selokan sedang besar dan tubuh korban dipaksa masuk hingga kedalaman dua meter ke dalam gorong-gorong.

"Sepulang kerja pakai motor, diboncengkan seperti memboncengkan anak. Dibawa ke gorong-gorong dalam keadaan lebat. Memang saat itu tidak ada orang lalu lalang di dekat gorong-gorong karena hujan lebat," kata Anom.

Akibat perbuatanya, pelaku dijerat pasal 76c Undang-Undang nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak di mana ancaman hukumannya yakni 15 tahun.


Editor : Muhammad Fida Ul Haq