JAKARTA, iNews.id - Kerajaan Galur rupanya pernah diserang secara mendadak saat sang raja asyik menyabung ayam. Serang itu dari sosok Ciung Wanara atau Manarah.
Saat itu Kerajaan Galuh dipimpin oleh Tamperan Barmawijaya. Sayangnya, dia tak menyadari ada upaya perebutan Kerajaan Galuh yang dilakukan oleh Ciung Wanara atas bimbingan dari buyutnya Ki Balangantrang.
Sayang persoalan ini tidak diketahui oleh sang raja. Selama hidup, Tamperan Barmawijaya memperlakukan Ciung Wanara sebagai anaknya sendiri walau secara garis keturunan hanyalah anak tiri.
Sebagai raja dan permaisuri, Tamperan dan Pangrenyep sebagai orang Sunda, mereka kurang disukai. Tamperan yang menjadi penguasa Sunda, diam-diam mendapat ancaman dari Manarah (Ciung Wanara) yang mendapat dukungan Ki Balangantrang dari Geger Sunten mempersiapkan rencana untuk merebut tahta.
Suatu ketika dikisahkan pada buku "Hitam Putih Pajajaran: Dari Kejayaan Hingga Keruntuhan Kerajaan Pajajaran" tulisan Fery Taufiq El Jaquenne, penyerangan dan kudeta sang anak tiri akhirnya dilakukan. Sang raja Galuh yang tengah menyabung ayam bersama penduduk setempat dikejutkan dengan serangan kejutan.
Kala itu pencetus serangannya tak lain ada Ki Balangantrang, sebab itu ia tahu betuk keadaan Kerajaan Galuh yang dipimpin oleh Tamperan Barmawijaya. Serangan dilakukan secara mendadak saat sangat raja dan pejabat kerajaaan tengah hadir menyaksikan sabung ayam.
Ciung Wanara yang membawa ayam menyamar menjadi peserta sabung ayam. Dia menyamar tak sendirian melainkan turut serta membawa pasukannya. Kudeta ini akhirnya berhasil dilakukan sama seperti peristiwa pada tahun 723 Masehi.
Manarah atau Ciung Wanara berhasil menguasai Galuh dalam waktu singkat dalam tempo satu malam. Lengahnya pembesar kerajaan menjadikan Ciung Wanara dengan mudah menguasainya.
Raja Tamperan dan permaisuri Pangrenyepp termasuk Banga mampu ditahan. Tetapi khusus untuk Banga ia dilepaskan, sebab dia hanya orang biasa yang tidak memiliki pengaruh di Galuh.
Malam hari tiba, Banga datang ke gelanggang sabung ayam untuk mencoba membebaskan raja dan permaisuri. Tapi ini diketahui oleh beberapa prajurit penjaga yang sedang berjaga, hingga mendatangkan Manarah yang ada di dalam keraton.
Di sisi lain upaya Raja Tamperan dan permaisurinya Pangrenyep untuk melarikan diri dari tawanan Ciung Wanara dilakukan. Upaya ini pun membuahkan hasil, sembari berlari keduanya terus dikejar oleh pasukan Ciung Wanara yang menghujani beberapa anak panah.
Pada akhirnya raja dan permaisuri harus menyerah, atas panah panas yang menancap di punggungnya. Sedangkan Banga sang pengawal raja yang bertarung melawan Ciung Wanara akhirnya harus menyerah mengalami kekalahan. Tamatlah riwayat raja Tamperan Barmawijaya dan permaisurinya akibat kelengahan menyabung ayam.
Editor : Nani Suherni
Artikel Terkait