SUKABUMI, iNews.id - Kasepuhan Ciptagelar merupakan kampung adat yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi leluhur yang diwariskan sejak ratusan tahun silam. Kasepuhan di kaki Gunung Halimun ini menjaga dan memegang teguh tradisi, salah satunya dalam hal kemandirian energi.
Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar memanfaatkan energi alam untuk memenuhi kebutuhan energi listrik di wilayah mereka yang secara administratif berada di Dusun Sukamulya, Desa Sirnaresmi, Sukabumi, Jawa Barat (Jabar). Meski berada di Jabar, budaya serta kehidupan masyarakat adat di sini lebih dekat dengan budaya Banten.
Kasepuhan ini hingga sekarang mengelola kebutuhan energi listrik bagi masyarakatnya tanpa campur tangan pemerintah. Sejak tahun 1998, desa ini telah mengembangkan energi listrik dari mikrohidro dengan memanfaatkan keberadaan aliran Sungai Cisono.
Ciptagelar saat ini memiliki pembangkit listrik tenaga mikrohidro atau PLTMh di tiga rumah turbin yang mampu menghasilkan daya listrik sebesar 118.000 Watt. Daya sebesar itu digunakan untuk mengaliri listrik di 700 rumah warga Kasepuhan Ciptagelar.
Sebelum ada listrik, dahulu masyarakat adat Ciptagelar hanya menggunakan lampu petromaks atau lampu minyak untuk menerangi rumah saat malam tiba. Kini setelah ada PLTMh, warga adat tak lagi kesulitan untuk beraktivitas sehari-hari setelah permukimannya teraliri listrik.
Namun, bukan berarti kendala tak pernah ada. Beberapa kali turbin mengalami kerusakan karena kondisinya yang sudah tua. Selain itu, jika musim kemarau panjang tiba dan menyebabkan debit air sungai berkurang, pasokan listrik ke rumah warga pun akan terganggu.
Jika hal ini terjadi, warga pun harus rela tak bisa menikmati listrik untuk sementara waktu. Warga harus kembali menggunakan penerangan dari lampu minyak kala malam tiba.
Untuk mencegah kerusakan turbin, warga rutin melakukan perawatan dan pemeliharaan. Dananya berasal dari iuran sebesar Rp20.000 yang dibayarkan warga Kasepuhan Ciptagelar setiap bulan. Iuran tersebut juga untuk pembelian suku cadang jika ada kerusakan pada turbin.
Salah satu warga Kasepuhan Ciptagelar, Icah, mengaku senang dengan adanya listrik di kampungnya. Sebab, dia bisa menggunakan peralatan elektronik dan menghemat biaya.
"Dulu kami mengalami pakai lampu harus beli minyak tanah. Sekarang lebih irit karena ada listrik. Sebulan hanya Rp20.000," ujar Icah.
Sementara itu, tokoh masyarakat adat Ciptagelar Aki Upat mengatakan, PLN sudah pernah menawarkan aliran listrik untuk kampung adat ini. Namun, sesuai kebijakan adat di kasepuhan, pihaknya lebih memilih memanfaatkan energi alam yang sudah dijalankan pemangku adat terdahulu. Masyarakat setempat sepakat tetap menggunakan PLTMh demi menjaga lingkungan.
"Jadi kami masyarakat adat sangat cinta dengan lingkungan, terutama air dan potensi lain juga mendukung. Kita membuat turbin tenaga air untuk mencukupi kebutuhan listrik masyarakat adat sekaligus untuk menjaga air dan hutan," kata Aki Upat.
Kasepuhan Ciptagelar menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat memanfaatkan energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan listrik. Diketahui, hingga saat ini penggunaan energi terbarukan belum optimal di Indonesia. Kasepuhan Ciptagelar telah berkontribusi bagi aksi penyelamatan krisis iklim di bumi ini yang disebabkan perubahan iklim.
Editor : Maria Christina
Artikel Terkait