BANDUNG BARAT, iNews.id - Petani penggarap lahan tidur di kawasan bantaran Waduk Saguling milik PT Indonesia Power (IP) di sekitar kawasan Kota Baru Parahyangan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) kehilangan mata pencaharian. Mereka harus terusir lantaran lahan garapanyang selama bertahun-tahun digarap sudah berpindah tangan.
Seperti yang dialami oleh salah seorang petani asal Seketando, Desa Cangkorah, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Adang (56). Kini hanya bisa gigit jari karena lahan pertanian yang digarapnya hampir puluhan tahun diklaim dimiliki oleh seseorang.
"Saya sudah 20 tahun lebih bertani mengarap lahan tidur di bantaran waduk Saguling milik PT Indonesia Power. Apa saja yang bisa ditanam dan dipanen saya olah, buat menghidupi keluarga daripada tanahnya gak keurus," tuturnya, Jumat (17/12/2021).
Namun baru-baru ini dirinya tidak bisa lagi menggarap lahan tidur milik PT IP itu karena telah dikuasai orang yang mengklaim telah membeli lahan garapan tersebut. Dirinya tidak mengetahui persis bagaimana bisa tanah tersebut diperjualbelikan.
Padahal, lahan yang digarap Adang di Desa Cimerang, Kecamatan Padalarang, KBB, atau tidak jauh dari lokasi venue ski air di kawasan Kota Baru Parahyangan itu milik perusahaan pelat merah. Walau pun memang pihak PT IP jarang mengecek keberadaan dari lahan tidur di kawaaan itu.
"Ya katanya udah dibeli oleh orang kaya yang tinggal di daerah Kota Baru sini. Tapi aneh juga, lahan perusahaan bisa diperjualbelikan," tanyanya.
Menurutnya, lahan tidur itu dulunya memang penuh semak belukar serta alang-alang hampir setinggi orang dewasa. Setelah susah payah merawat lahan tersebut dengan cara mencabuti rumput liar serta mencangkul tanah agar gembur, dia dijanjikan diberi uang Rp2 juta oleh sang pembeli lahan.
"Namun sudah bersih, saya disuruh pergi dan uang yang dijanjikan juga gak pernah ada," kata pria yang sehari-hari harus menggunakan perahu tongkang menyeberangi genangan Waduk Saguling untuk beraktivitas.
Dirinya berharap PT Indonesia lebih memperhatikan petani kecil daripada orang-orang kaya untuk memanfaatkan lahan tidur. Apalagi, para petani telah menggarap sejak puluhan tahun dan menggantungkan pendapatan dari hasil tanah tersebut.
"Kalau bisa perhatikan petani kecil seperti kami, karena kalau kami kan hanya untuk menyambung hidup menggarap lahan tidur itu bukan untuk menguasai," ujarnya.
Sementara itu, berdasarkan penelusuran, puluhan hektare lahan Indonesia Power di Desa Cimerang, Kecamatan Padalarang, yang berbatasan dengan kawasan Kota Baru Parahyangan telah diperjualbelikan. Lahan garapan itu dijual dengan harga fantastis antara Rp8-20 juta, tergantung dari luasnya.
Editor : Asep Supiandi
Artikel Terkait